Palestina Dalam Sejarah

Palestina Sebelum Islam

Negara Palestina dan kota Yerusalem yang saat ini kita kenal menyimpan sejarah panjang dan berliku. Berbagai suku bangsa dan kekuasaan silih berganti menguasainya. Letaknya yang strategis sejak dahulu membuat berbagai bangsa datang dan pergi. Salah satu wilayah paling tua yang ditemukan oleh Arkeolog adalah Yericho yang berusia kurang lebih 10.000 tahun. Sedangkan suku bangsa yang pertama menghuni wilayah ini adalah suku bangsa Kan’an pada 2500 SM. Sedangkan suku bangsa Filistin, adalah suku bangsa pelaut yang menghuni di salah satu pesisir wilayah Kan’an.

Nabi Ibrahim As diperkirakan datang ke daerah ini sekitar 1997 - 1822 SM, beliau beserta anaknya, nabi Ismail As (1911 -1774 SM)  dan  Nabi Ishak As (1897 – 1717 SM) beserta cucu Nabi Ya’qub As berdakwah di wilayah ini. Sementara putranya nabi Ismail As (1911 -1774 SM) hidup dan berdakwah di wilayah semenanjung Arabia. Nabi Ya’qub as (1837 – 1690 SM) yang disebut juga Israel mempunyai anak sebanyak 12 orang yang kemudian anak keturunannya dikenal sebagai Bani Israel. Salah satu putranya Nabi Yusuf As menjadi pembesar di Mesir dan kemudian beliau mengajak ayah dan saudara-saudaranya untuk pindah dan menetap di Mesir. Sampai kemudian Bani Israel ini dizalimi oleh penguasa Mesir Firaun dan oleh Nabi Musa As (1250 SM) serta Nabi Harun As mereka eksodus keluar dari wilayah Mesir kembali ke wilayah Palestina dan anak keturunannya menetap di sana hingga saat ini.

Rentang sejarah Palestina dan Yerusalem oleh Simon Sebag Montefiore dalam bukunya The Biography of Yerusalem dimulai dari masa periode Yudaisme (5000 SM), kemudian periode Paganisme, Periode Kristen, Periode Islam pertama, periode perang Salib, Periode Mamluk, Periode Ustmaniyah, Periode Imperium dan Periode Zionisme. Dalam buku ini kita akan melihat pembagian sejarah Palestina itu dengan masa sebelum Islam, masa kekuasaan Islam,masa perang Salib, masa setelah perang salib dan dalam masa imperium hingga sekarang yang tersusun dengan urutan tahun.

Berbagai macam peristiwa mewarnai tanah yang dari dulu sampai sekarang menjadi perebutan dari berbagai macam suku bangsa.  Dari sana akan terlihat bagaimana rentang waktu dan sejarah itu menorehkan cerita pilu serta dendam kesumat yang tak habis habisnya. Dalam berbagai buku disebutkan sejarah Yerusalem yang mengakar kepada Dawud – Yesus – Islam – Perang Arab dan Israel.  Kenapa Yerussalem? Padahal tempat ini jauh dari hingar bingar rute perniagaan dunia, dan tidak memiliki sumber daya alam seperti negara timur tengah lainnya dan memiliki alam yang keras untuk di tinggali. Tetapi Yerusalem adalah kota pilihan, dimana Kiblat pertama umat Islam berada, tempat di mana para Nabi- Nabi pernah hidup disini, kitab – kitab suci itu pernah diturunkan dengan segala penafsirannya yang melahirkan ajaran agama lain selain Islam (Yahudi dan Kristen). Disini juga akan menjadi saksi akhir jaman di masa dalam berbagai kepercayaan itu pemimpin agama mereka akan muncul di sini…… di Yerusalem.

Periode Yudaisme

Periode Yudaisme digambarkan bermula sejak jaman perunggu sekitar 5000 SM, Kemudian,  ketika Bani Israel yang dibawa oleh Nabi Musa As dan Nabi Harun As  bermigrasi dari Mesir kembali ke wilayah ini. Sepeninggal Nabi Musa As dan Nabi Harun As, Bani Israel di pimpin oleh Yusha bin Nun As (1190 SM) diwilayah Timur Laut. Bangsa Israel hidup dalam berbagai masalah sosial yang buruk sampai kemudian salah satu dari keturunan mereka, Thalut menjadi Raja Bani Israel, tapi tidak juga membuat hidup mereka lebih baik. Thalut kemudian terlibat pertempuran dengan Jalut dan dalam sebuah kesempatan soerang pemuda bernama Dawud berhasil mengalahkannya sehingga Thalut kemudian memberikannya sebagian dari kekuasaannya (1004 SM), kerajaan Yehuda kepada Dawud. Dawud kemudian memindahkan ibukota kerajaannya ke Yerusalem (995 SM). Nabi Dawud As memerintah dan membawa kemajuan bagi Yerusalem waktu itu. Ketika beliau wafat, putranya Sulaiman as menggantikannya (963-923 SM)

Sejak Nabi Sulaiman as menguasai wilayah ini, negeri ini semakin maju dan berkembang wilayah kekuasaannya. Allah swt memberikan Sulaiman as kerajaan yang belum pernah ada sebelumnya. Palestina saat itu menjadi pusat kejayaan dalam Iman dan tauhid. Nabi Sulaiman As memerintah selama 40 tahun. Setelah beliau wafat kerajaan terbagi menjadi dua; Kerajaan Israel di utara diperintah oleh Yeroboam dengan ibukota Samarria (923 -721 SM) dan Kerajaan Yehuda di selatan yang dikuasai oleh Rehabeam (930 – 626 SM) yang melemahkan Bani Israel di Palestina. hingga akhirnya mereka dikuasai oleh bangsa lain.

Setelah mengepung selama 18 bulan, pada tahun 586 SM tentara Babilonia dan Nebukadnezar memasuki Yerusalem dan membakar dan menjarah kuil Bait Suci hingga habis, membunuh raja dan keluarganya serta mengusir semua orang Yahudi keluar dari negeri itu dan menawan oran-orang Yahudi di Babilonia. Tahun 572 – 571 SM, Nebukadnezar menguasai wilayah Babilonia, Palestina, Arabia utara dan sebagian Asia kecil.

Kerajaan Persia dibawah Cyrus Yang Agung kemudian menaklukan Babilonia dan menguasai Yerusalem pada tahun 539 – 336 SM. Cyrus mengijinkan orang-orang Yahudi untuk kembali ke Yerusalem dan membangun kembali kuil bait suci mereka. Persia kemudian ditaklukan oleh Alexander yang Agung dari Kerajaan Macedonia dalam perjalanannya menuju Mesir dan mendirikan kota Alexandria. Alexander tidak berumur panjang dan wafat di Babilonia. Kekuasaannya diperebutkan oleh pengikutnya, termasuk wilayah Yerusalem yang bergonta-ganti diantara penguasa yang terkuat.

Hingga akhirnya Yehuda dan Godam dari Dinati Maccabee (164 – 66 SM) menguasai Yudea dan Yerusalem serta mengembalikan orang-orang Yahudi yang terbuang dan mengungsi di berbagai tempat kembali ke Yerusalem. Kekuasaan Dinasti Maccabee berakhir ketika Romawi dibawah pimpinan Graeus Pompey menyerbu dan menguasai Yerusalem pada 66 – 40 SM. Pompey menghancurkan banteng-benteng dan memasuki tempat suci mereka sebelum akhirnya kembali ke Romawi dan membagi kekuasaan dengan Crassus dan Caesar. Crassus yang tamak kemudian menyerbu Yerusalem dan mencuri 2000 kotak dan lampu emas padat di dalam Kuil yang tidak pernah di sentuh Pompey. Kemudian Caesar mengalahkan Pompey dan menjadi satu – satunya pemimpin Romawi kala itu sebelum di bunuh. Crassus sendiri ditaklukan Raja Parthia Orad II.

Romawi kemudian diserbu oleh Kerajaan Parthia pada 38 SM dan dibantu oleh Herod yang menghalaunya. Bersama penguasa Romawi saat itu, Anthony, Herod kemudian menaklukan Yerusalem setelah mengepungnya selama empat puluh hari lalu menyerbu tembok terluar Yerusalem. Herod lalu menghancurkan Yerusalem, membantai orang-orang Yahudi dan meruntuhkan sisa Kuil suci kedua dan kemudian membangun sebuah kuil baru yang megah disana.

Dalam sejarah Injil disebutkan pada masa Herod ini, Nabi Isa as hidup (10 – 40 SM). Beliau ditangkap oleh tentara Romawi dan di eksekusi sebelum akhirnya Allah swt mengangkat beliau ke langit dan menggantikan dengan yang menyerupai beliau yang akhirnya di Salib oleh tentara Romawi (dalam pandangan Kristiani mereka sebut Yesus Kristus).

Ketika Herod wafat, Herod membagi kerajaannya kepada putranya dan memberikan Yerussalem serta Yudea kepada Archelaus yang karena ketidak cakapan memimpinnya,  Yerusalem kembali dikuasai oleh Romawi dibawah kaisar Augustus. Pada tahun 66 – 70 M, terjadi peperangan Yahudi yang dimulai dengan pemberontakan orang Yahudi kepada Romawi dipimpin oleh Ananus pemimpin Israel Merdeka. Lalu muncul Simon ben Giora yang juga menjadi pemimpin pemberontakan. Pemberontakan ini kembali menghancurkan Yerusalem.

Periode Paganisme

Periode Paganisme dimulai ketika kehancuran di Yerusalem yang menyisakan puing-puing dengan tontonan berdarahnya. Kemudian Titus Putra Vespasianus (79 – 81 M) dari Romawi memadamkan pemberontakan dan menawan para pemimpim dan pembangkang Yahudi dan merampas harta-harta dan merusak kuil kuil suci. Yerusalem hancur. Romawi menggunakan harta harta rampasan itu untuk membayar Colloseum. Dari masa ke masa orang Yahudi selalu berharap dapat memiliki kembali Yerusalem dan membangun Kuil suci mereka.  Mereka ingin dikuburkan dekat dengan kuil suci agar pada waktu hari pembalasan menjadi orang orang yang awal dibangkitkan. Bukit zaitun mulai di gunakan sebagai pekuburan Yahudi. Pada masa ini orang – orang Kristen mulai menjadi ancaman bagi orang Yahudi.

Setelah ditawan, bangsa Yahudi kembali ke Palestina dengan perintah dari raja Persia Qorisy yang saat itu menguasai Palestina. Palestina kemudian jatuh ke tangan imperialisme Yunani pimpinan Alexander Maxdoni tahun 332 SM yang berusia sepanjang 272 tahun. Kemudian Palestina jatuh ke tangan Romania tahun 63 SM dengan pimpinan Titus. Imperilalisme Romania berusia selama 700 tahun di wilayah ini.

Periode Kristen

Periode Kristen ada pada masa puncak kejayaan Byzantium 312 – 518 M. Kaisar Konstantine menginvasi Roma tahun 312 dan mengalahkan Maxentius kemudian memindahkan ibukota ke Timur serta mendirikan Romawi kedua yang disebutnya Byzantium di Bhosporus antara Eropa dan Asia. Konstantine menggunakan prinsip agama Kristen dengan hierarki satu kaisar satu negara dan satu agama untuk memperluas kekuasaannya. Walaupun pada saat itu pengikut Kristen terbelah dengan adanya beberapa injil yang berbeda satu sama lain dalam mendeskripsikan sifat ketuhannya (baca asal-usul agama Nasrani). Kaisar Konstantine kemudian membangun Yerusalem yang saat itu hancur menjadi sebuah kota baru yang dinamakannya Aelia Capitolia.

Konstantine yang agung dan ibunya, ratu Helena mencari keberadaan makam dan lokasi penyaliban Yesus. Dia kemudian membongkar kuil-kuil pagan dan menemukan tiga salib kayu yang salah satunya bertuliskan “Yesus dari Nazareth, Raja Yahudi”.  Mereka kemudian membangun Gereja makam Suci dengan bagian Basilica yang indah di sudut bukit Golgotha dengan makam Yesus di dalamnya. Ratu Helena mengubur semua kuil Pagan untuk menunjukan kegagalan Tuhan Yahudi.

Pada tahun 333, Aelia Capitolia (Yerusalem) sudah berubah menjadi sebuah kota Kristen yang ramai dikunjungi walau Gereja yang menakjubkan belum selesai di bangun. Ratu Helena mengunjungi semua situs kehidupan Yesus dan membangun peta untuk para peziarah Kristen. Kaisar Konstantine memerintahkan kepada setiap orang Yahudi yang mencoba menghentikan saudaranya untuk berpindah ke Kristen untuk langsung di bakar. Hingga akhirnya hanya tersisa segerombolan Yahudi di bukit Zion dan Konstantine melarang mereka untuk masuk Yerusalem.

Ketika Konstantine wafat dia membagi kekuasaan kepada tiga putranya yang menghabiskan selama dua puluh tahun untuk berebut kekuasaan hingga akhirnya putra kedua Konstantinus yang memenangkan. Pada 351 M terjadi gempa di Yerusalem yang memaksa semua umat Kristen berlindung di Gereja Makam suci. Kemudian Orang Yahudi memberontak di pimpin oleh Raja Messiah yang kemudian membantai semua umat Kristen oleh sepupunya Gallus Caesar.  Keadaan berbalik, mereka membalikkan Kristen dan membangun kembali Kuil Yahudi.

Julian, sang kaisar baru pada 362 M mengijinkan orang – orang Yahudi kembali dan membebaskan semua pajak dan anti Yahudi serta menginjinkan membangun kuil–kuil suci dan Sinagog yang disambut suka cita orang Yahudi. Sampai Julian wafat, dia digantikan oleh pengawalnya yang kemudian memulihkan Kristen kembali dan melarang Yahudi masuk Yerusalem lagi. Pada 391-2 M Theodosius I menjadikan Kristen agama resmi kekaisaran dan memberlakukan satu agama dan satu kebenaran.

Ketika Theodosius wafat, istrin dan kakak perempuannya terlibat perselisihan Kristologis. Jika Yesus dan Bapa adalah satu zat bagaimana Kristus menggabungkan sifat-sifat ketuhanan dan kemanusiaan? Nestorius, Patriark Konstantinopel baru menegaskan sisi manusiawi Yesus dan sifat Ganda dan menekankan satu sifat yang secara simultan sebagai manusia dan Tuhan. Yang kemudian dalam kompromi mereka menyatakan bahwa Yesus adalah sempurna dalam ketuhanan dan kemanusian yang sampai saat ini berlangsung dalam Gereja Ortodoks, Katolik dan Protestan. Dan Monifisit dan Nestorian dengan alasan bertentangan keluar dari Ortodoks.

Pada tahun 518 – 630 M, Persia mulai menginvasi yang dimulai dengan redupnya Byzantium di bawah kekuasaan Justinian. Justinian terkenal akan kesuksesannya mempromosikan imperium Kristennya dalam perang, agama dan seni di tengah beberapa kali percobaan invasi Persia. Justian menurunkan derajat Yudaisme dan membaptis paksa Yahudi, merubah sinagog – sinagog menjadi gereja - gereja. Dan pada tahun 537 M mempersembahkan Gereja Hagia Sophia (Kebajikan Suci) yang menakjubkan.

Begitu besarnya wilayah kekuasaannya saat itu menimbulkan kerawanan akan gangguan keamanan. Dan Shah Persia Khusrau II mendapat kesempatan menginvasi Timur, menghancurkan Konstantinopel dan Yerusalem. Orang Persia kemudian menaklukan Irak, Romawi lalu Syria dibantu oleh 20.000 orang Yahudi Antioch yang telah begitu lama disiksa oleh orang Kristen Byzantium. Orang-orang Yahudi ini memberontak dan bersatu dengan tentara Persia dibawah Panglima Shahbaraz mengepung Yerusalem. Membantai ribuan orang-orang Kristen dan mengusir sisanya keluar Yerusalem. Membakar Gereja Makam suci, Nea dan Induk gereja di Bukit Zion. Setelah 600 tahun Titus menghancurkan kuil, akhirnya orang Yahudi dapat kembali. Yerusalem dan seluruh Romawi Timur berada di bawah kekuasaan Raja diraja Muda Persia Khusrau II yang imperiumnya membentang dari Afganistan sampai ke Mediterania.

Shah menciptakan kegelimangan harta dan kemewahan dalam semua istananya, adalah seorang penganut Zoroaster  yang pandai berbagai bahasa dan membaca ajaran Yahudi dan Kristen. Istrinya yang cantik Shirin adalah seoran Kristen Nestorian. Setelah 3 tahun kekuasaan Yahudi, Shah membutuhkan lebih banyak pasukan untuk menyerang Konstatinopel dan dia melihat orang Kristen yang berpotensi untuk membantunya. Kemudian Shahbaraz, panglimanya mengusir orang Yahudi dari Yerusalem dan menyerahkan kembali kepada orang Kristen. Orang Yahudi pun keluar menuju ke Yericho.

Kaisar muda Byzantium, Heraclius mengalahkan Panglima Persia Shahbaraz pada 622 dan menuju ke Istana Raja Khusrau II. Heraclius kemudian menguasai Persia dan membunuh Shah Khusrau II dan Shahbaraz. Heraclius kemudian mengembalikan salib suci ke Yerusalem dan memaafkan orang Yahudi Tiberia. Dia kemudian pindah ke agama Kristen dan menyerahkan salib suci. Orang Kristen menuntut Balas terhadap Yahudi, setelah sebelumnya menolak akhirnya Heraclius mengusir para Yahudi dan membantainya serta memaksa pindah ke agama Kristen. Heraclius ini adalah Tentara Salib pertama, dia yang mengembalikan salib suci ke Gereja Makam Suci.

Pada masa ini, di daerah selatan orang – orang Arab sudah memperhatikan kelemahan Heraclius dan Nabi Muhammad SAW mulai mengirimkan pasukan untuk menyerang Byzantium dan Yerusalem.

  1. Palestina masa kekuasaan Islam  

Dalam sejarah panjang Yerusalem di Palestina, tidak dapat dipungkiri bahwa masa-masa Islam menguasai wilayah ini adalah masa-masa kegemilangan dan berkembangnya peradaban wilayah ini di dunia. Islam membawa kedamaian sejak pertama menguasai Yerusalem berbeda dengan penguasa lainnya yang pernah menguasai wilayah ini.

Menguasai wilayah Palestina dan sekitarnya adalah juga pintu gerbang berkembangnya Islam di wilayah Timur - Tengah, Afrika dan bahkan hingga ke Eropa. Kita akan melihat bagaimana Nabi Muhammad Saw beserta para sahabat, Khulafaur Rasyidin dan para Khalifah berjuang untuk menguasai wilayah yang memang sejak dulu telah diperebutkan oleh berbagai bangsa di dunia ini.

Periode Nabi Saw dan Khulafaur Rasyidin

Perang Mu’tah

Berkembangnya wilayah kekuasaan Nabi Saw ke berbagai wilayah menimbulkan ketidak senangan dari berbagai pihak, termasuk kaum Yahudi dan Kristen di sekitarnya. Salah satu perang besar dengan pihak Kristen (Romawi) adalah perang Mu’tah pada September 629 M (Mu’tah adalah salah satu daerah di daerah Balqa, Syam/Yordania sekarang). Perang Mu’tah di picu oleh di bunuhnya utusan Rasullullah SAW, Harist bin Umair Ra yang saat itu sedang dalam perjalanannya menemui Raja Bushra di daerah Mu’tah. Membunuh utusan berarti menyatakan perang. Nabi Saw kemudian mengutus 3000 orang pasukan Muslim yang dipimpin oleh sahabat-sahabat terbaiknya. Sementara pasukan Romawi berkekuatan 20.000 tentara dan dibantu oleh pasukan Nashara (Kristen) yang berada disekitar wilayah itu.

Rasulullah Saw bersabda,

“Pasukan ini dipimpin oleh Zaid bin Haritsah, bila ia gugur komando dipegang oleh Ja’far bin Abu Thalib, bila gugur pula panji diambil oleh Abdullah bin Rawahah –saat itu beliau meneteskan air mata- selanjutnya bendera itu dipegang oleh seorang ‘pedang Allah’ dan akhirnya Allah Subhânahu wata‘âlâ memberikan kemenangan. (HR. al-Bukhari)

Inilah perang dimana Nabi saw mengirimkan pemimpin-pemimpin terbaiknya untuk menghancurkan musuh. Dengan kalahnya jumlah pasukan membuat pasukan muslim berfikir keras menentukan strategi untuk memenangkan pertempuran. Akan tetapi dengan semangat berjihad menegakan agama Allah SWT, pasukan ini terus maju dan menggempur musuh di wilayah perbatasan Balqa di desa Masyarif dimana pasukan Heraclius  bergeser di daerah Mu’tah.

Pertempuran berjalan tidak berimbang, Qutbah bin Qatadah Ra menjadi komandan di sayap kanan dan Ubadah bin Malik Ra disayap kiri sementara Zaid bin Haritsah Ra memimpin dan menerjang setiap musuh yang menghadang dengan membawa panji-panji Rasulullah Saw. Zaid bin Haritsah ra syahid dan pasukan di pimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib Ra yang tidak kalah bersemangatnya menghancurkan musuh. Bahkan Ja’far akhirnya meloncat dari kudanya dan menebas keempat kaki kudanya agar dapat masuk ke tengah-tengah musuh serta menghancurkan mereka. Ja’far bin Abi Thalib Ra berperang habis-habisan hingga tangan kanan dan kirinya terputus, dan panji-panji dia rangkul dengan dadanya hingga akhirnya juga syahid dengan 90 luka di tubuhnya.

Panji-panji kemudian beralih ke pemimpin ke tiga Abdullah bin Rawahah Ra yang juga berperang hingga syahid. Setelah syahidnya ketiga panglima perang tersebut, Tsabit bin Arqam al Ajlani mengambil alih panji-panji pasukan dan beliau meminta sisa pasukan menunjuk pemimpin selanjutnya. Akhirnya mereka sepekat menunjuk Khalid win Walid Ra untuk memimpin. Begitu mengambil alih panji-panji, Khalid bin walid kemudian menyelamatkan sisa pasukan dan mengatur strategi baru untuk menghancurkan pasukan Romawi dan akhirnya memenangkan pertempuran.

Strategi yang digunakan Khalid bin walid adalah pertama dengan menyusun kembali pasukan yang telah tercerai berai dan vakum karena tidak adanya pemimpin. Kedua, beliau membuat insiden-insiden kecil untuk mengulur-ulur waktu hingga sore hari dimana ketika itu perang tidak dilaksanakan di malam hari. Dan strategi ketiga adalah dengan menggunakan kamuflase pasukan. Pasukan dipencar pencar sedemikian rupa dalam suatu garis memanjang. Yang dikerahkan untuk maju adalah dari barisan belakang, yang berada di garis depan diubah ke garis belakang, dan sebaliknya. Sementara, sayap kanan dialihkan ke sayap kiri dan sayap kiri dialihkan ke sayap kanan. Bila keesokan paginya pasukan Romawi sudah bangun, mereka merasa ada kesibukan dan hiruk-pikuk yang cukup menggentarkan perasaan. Mereka beranggapan bahwa bala bantuan dari Rasulullah saw  telah didatangkan. Kalau pada hari pertama jumlah 3.000 orang itu telah membuat jumIah mereka yang terbunuh tidak sedikit -meskipun tak dapat mereka pastikan. Apalagi jika mereka mendapat bala bantuan yang tidak diketahui berapa besar. Akibatnya pasukan Romawi menjauhkan diri dari serangan  Khalid. Mereka senang jika Khalid tidak menyerang mereka, dilain pihak Khalid juga senang,karena beliau bisa menarik mundur pasukannya dan kembali ke Madinah. Sewaktu mereka tiba kembali di Madinah, Rasulullah Saw langsung menyambut mereka di batas kota Madinah dengan berurai airmata.

 “Bangsa Romawi telah dikalahkan, di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang (3). Dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah lah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman (4)”  (QS Ar-Rum: 3-4)

Perang  Tabuk

Tak sampai satu tahun setelah perang Mu’tah, Rasulullah SAW kembali memimpin pasukannya dalam perang Tabuk pada Rajab tahun 9 H atau Oktober 631 M. Perang ini di picu oleh keinginan Kaisar Heraclius untuk menaklukan umat Muslim yang terus berkembang pesat. Heraclius menyiapkan 40.000–100.000 pasukan bersama sekutunya Ghassaniyah untuk menginvasi Hijaz. Walau pasukan muslim hanya berjumlah 30.000 orang, tetapi Rasulullah saw dalam pidatonya membangkitkan semangat kaum muslimin dan menggentarkan pihak lawan. Mereka menaklukan sejumlah wilayah di perbatasan Syam, seperti Daumatul Jandal dan berdamai dengan penduduk Eilah di teluk Aqabah. Hingga akhirnya Yuhannah bin Ru’bah pemimpin Ailah datang dan menyerahkan diri kepada Nabi saw dan kemudian diikuti oleh yang lainnya.

Rasullullah Saw mengirimkan sebuah pasukan untuk menghancurkan pasukan Romawi yang di pimpin oleh Usamah bin Zaid, putra Zaid bin Haritsah Ra yang pada saat itu masih berusia 15 tahun ke Syam. Tetapi karena Nabi Saw sakit, mereka di minta untuk kembali ke Madinah dan membereskan pemberontakan dari kaum Murtad.

Setelah tampuk kepemimpinan umat dipegang Abu Bakar ra, pasukan ke Syam (Palestina, Syam, Libanon dan Jordania) dikirim kembali dengan pimpinan Abu Ubaidah dan sejumlah sahabat lain.

Perang Yarmuk

Perang Yarmuk berlangsung pada tahun 13 H.  Kali ini pasukan Romawi menyiapkan pasukan dengan jumlah yang cukup besar dan pasukan Islam di pimpin oleh Khalid bin Walid Ra bertemu di Lembah Yarmuk, di utara sungai Yordan didekat dataran tinggi Golan. Sebelumnya beberapa pasukan Islam dengan beberapa komando telah berada disana dan Khalid memutuskan untuk menyatukan empat pasukan Islam dan memilih satu komando yang dipegang secara bergantian setiap hari agar Romawi melihatnya sebagai sebuah pasukan yang besar. Untuk hari pertama akan di pegang oleh Khalid sendiri.

Tentara Romawi berusaha memata-matai pasukan Islam dan berhasil mengirimkan seorang Nasrani masuk dan menyusup ke dalam pasukan Islam dan tinggal selama 1 malam. Nasrani tersebut melaporkan bahwa pasukan Islam adalah pasukan yang mengisi malam-malam mereka dengan beribadah, shalat dan puasa di siang hari serta menganjurkan kebaikan dan melarang keburukan.

Ketika peperangan akan di mulai, pasukan Romawi memilih lokasi yang sempit, sehingga memudahkan pasukan Islam untuk menekan mereka dan mengepung mereka. Dikelilingi oleh lembah dan gunung di kanan kiri serta gunung di bagian belakangnya membuat mereka sulit bergerak. Tentara Romawi berpikir akan menyerang dari depan tetapi posisi tersebut membuat mereka lebih mudah  terkepung dan menguntungkan pasukan Islam yang hanya menyisakan sedikit ruang untuk bergerak. Khalid bin Walid yang membagi pasukan menjadi 36 bagian pasukan berkuda untuk menakuti musuh dan menguatkan pasukan.

Sementara itu para sahabat yang hafal Al Quran membacakan surat Al Anfal dan memberikan semangat untuk sabar dan tidak gentar. Perang berlangsung dengan dahsyat, tercatat 400 pasukan Islam Syahid termasuk Ikrimah bin Abu Jahal, Al Harits bin Hisyam dan Dhirar bin Al Azwar Ra. Sebelum akhirnya pasukan Islam membalikan serangan dan membuat pasukan Romawi kocar-kacir. Pasukan Romawi yang mundur sebagian terjun masuk jurang, cekungan gunung dan tewas. Mereka merantai diri agar tetap bertahan akan tetapi lebih banyak yang jatuh ke jurang. Selama beberapa hari perang akhirnya peperangan dimenangi oleh pasukan Islam.  Sebanyak 3000 pasukan Syahid dan lebih dari 100.000 pasukan Romawi tewas. Heraclius sangat kecewa dan kemudian meninggalkan Negeri Syam ke arah utara.

“Dan Allah memelihara kaum muslimin dari peperangan.” (QS. Al Ahzab: 25)

Perang Yarmuk adalah pintu umat Islam menguasai wilayah Palestina dan Yerusalem. Khalid bin Walid dengan pasukannya terlebih dahulu mengalahkan Pasukan Bizantum di sebelah barat daya Yerusalem sebelum akhirnya menyerbu Damaskus. Saat perang sedang berlangsung terdengar khabar wafatnya Abu Bakar Ra yang kemudian digantikan oleh Umar bin Khatab Ra. Umar kemudian menunjuk panglima perang Abu Ubaidah untuk menggantikan Khalid bin Walid memimpin pasukan. Setelah menghancurkan pasukan Romawi timur pasukan Islam kemudian menghancurkan tentara Persia.

Byzantium yang sudah lemah oleh Persia runtuh dan takluk oleh Pasukan Arab. Setelah mengancurkan Legiun Romawi timur ini mereka menuju Persia yang kemudian juga jatuh ke tangan Arab.

Yerusalem sendiri masih belum menyerah setelah di kepung selama berhari-hari oleh pasukan Islam di bawah Amr bin Al Ash, Khalid bin Walid dan para sahabat lainnya. Sophronius, pemimpin gereja di Yerusalem akhirnya meminta agar pemimpin umat muslim amirul mukminin Umar bin Khatab Ra didatangkan ke sana untuk mendapat jaminan bahwa umat Kristen boleh tetap menjalankan ibadahnya sebelum mereka menyerah. Umar bin khatab ra akhirnya datang dan menyetujui dengan imbalan pembayaran pajak penyerahan.

Sophronius mengajak Umar ra berkeliling ke Makam suci dan ketika waktu sholat tiba, Umar ra meminta muazinnya  azan untuk memanggil tentaranya sholat. Sophronius kemudian mengajak beliau untuk sholat di Makam Gereja Suci akan tetapi Umar Ra menolak sambil memperingatkan bahwa ini akan jadi tempat ibadah umat muslim. Umar Ra kemudian meminta di tunjukan ke tempat suci Nabi Dawud As dan Nabi Sulaiman As yang pada saat itu sudah penuh kotoran yang dilemparkan oleh orang Kristen untuk merendahkan orang Yahudi. Umar Ra kemudian minta di tunjukan Benda Tersuci (Holy of holies) kepada Rabi (pendeta) Yahudi Kaab  Al-Ahbar, yang meminta beliau berjanji untuk menjaga “dinding itu” ( merujuk sisa kuil Herod termasuk tembok barat) dan Kaab kemudian menunjuk pondasi Kuil dan batu yang disebut “Sakhra”. Umar Ra dibantu tentaranya membersihkan tempat itu dan kemudian membangun tempat shalat pertamanya di sebelah selatan Batu, kira-kira di tempat Masjid Al Aqsha sekarang berada. Umar bin Khatab Ra memberikan tempat bagi Umat Muslim dan Orang Yahudi untuk beribadah bersama-sama dan juga orang Kristen. Umar Ra bahkan mengangkat Gubernur Yerusalem dari Kalangan Yahudi selain menempatkan orang-orang Quraisy di Yerusalem. Selain Amr dan Khalid, Umar Ra juga ditemani seorang Pemuda yang cakap bernama Muawiyah bin Abi Sufyan yang kemudian ditunjuknya menjadi Gubernur Syria.

Bani Ummayah

Umar bin Khatab ra wafat pada tahun 644 M dan digantikan oleh Ustman bin Affan ra sepupu Muawiyah bin Abi Sufyan. Ketika Ustman Ra  wafat, kepemimpinan umat Islam digantikan oleh Ali bin Abi Thalib Ra sepupu dan menantu Nabi saw. Ketika kemudian Ali bin Abi Thalib Ra wafat di Irak, maka periode Khulafaur Rasyidin berakhir dan kepemimpinan dipegang oleh putra beliau Imam Hasan bin Ali Ra yang kemudian menyerahkannya kepada Muawiyah bin Abu Sufyan untuk menjadi Amirul Mukminin untuk menghindari perpecahan diantara umat Islam pada waktu itu.

Periode kekhalifahan Bani Ummayah dimulai dengan Khalifah pertama Muawiyah yang memerintah dari Damaskus. Nama Ummayah merujuk kepada nama buyut pertama dari Khalifah Muawiyah yaitu Umayyah bin Abd asy-Syams. Muawiyah memerintah dengan adil serta toleran bahkan pasukan perangnya terdiri dari orang-orang Islam, Kristen dan Yahudi. Beliau menunjuk Mansur bin Sanjun untuk wilayah Yerusalem. Muawiyahlah yang pertama  memperluas Masjidil Aqsha dan kawasan Al Haram Al Sharif. Muawiyah kemudian menaklukan Cyprus, Rhodes bahkan sempat mengepung Konstatinopel selama tiga tahun. Sayangnya ketika Muawiyah wafat, penggantinya Yazid tidak cakap memimpin sehingga umat Islam terbelah.

Cucu Nabi Saw,  Hussein bin Ali memberontak untuk membalas kematian ayahnya Ali bin Abi Thalib Ra. Hussein bin Ali kemudian kepalanya di pengal di Karbala Irak. Ke syahidan Ali membuat perpecahan besar dalam Islam antara Sunni dan Syiah “ pembela Ali”.  Yazid kemudian wafat pada 683 M dan militer Syria menobatkan Marwan menjadi Amir. Marwan kemudian wafat pada April 685 dan putranya Abdul Malik menjadi Amir di Damaskus dan Yerusalem walaupun di wilayah Mekkah, Irak dan Persia dikuasai pemberontak.

Sejak berusia 16 tahun Abdul Malik sudah menjadi panglima pasukan Islam melawan Bizantium, Abdul Malik telah menaklukan Iran dan Irak bahkan menguasai Balkanabad, Bukhara, Khwarezmia, Ferghana dan Samarkhan bahkan sampai ke India, Balukhistan, Sind, Punjab hingga ke Multan. Bahkan Islam menguasai dari Afrika Utara hingga benua Eropa, Spanyol. Kota-kota Seville, Elvira, Toledo hingga Cordoba ibukota Spanyol di taklukan dengan mudah dengan dukungan penduduk setempat yang sudah bosan dengan kekejaman penguasa mereka waktu itu.  Pada zaman Abdul Malik dan Al Walid, walaupun ibukota berada di Damaskus, tetapi mereka membangun istana di Yerusalem dan juga masjid yang besar yang lebih jauh dari Al Aqsha. Pada waktu ini penduduk Yerusalem yang berbeda agama benar-benar dijamin kebebasannya untuk menjalankan agama masing-masing. Hanya pada zaman Khalifah Umar II tahun 720 yang membatasi kaum Yahudi beribadah hanya di sekitar tembok kuil. Dome of the Rock di bangun oleh Abdul Malik pada tahun 691/692 M dengan memadukan beberapa arsitektur Bizantium dan Persia disana.

Pada Zaman Khalifah Umar bin abdul Aziz, tentara Islam menyerang kawasan Perancis dipimpin oleh Abdurahman bin Abdullah Al Ghafiqi, sayangnya beliau gugur dan pasukan Islam kembali ke Spanyol. Pada zaman Bani Umayah Islam sudah menyebar dan berkuasa begitu luasnya dari Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arab, Irak, sebagian kecil Asia, Persia, Afghanistan, wilayah – wilayah yang saat ini dikenal Pakistan, Turkmenistan, Uzbekistan dan Kirgistan di Asia Tengah.

Setelah dipimpin oleh 14 Khalifah secara warisan dari 41 H sampai 132 H, akhirnya kekuasaan Bani Ummayah berakhir. Faktor yang membuat kejatuhan Bani Ummayah dari internal adalah perselisihan pada waktu pelantikan Khalifah (4 dari khalifah adalah anak khalifah sebelumnya yang langsung ditunjuk menggantikan ayahnya) dan penentangan dari kelompok – kelompok khawarij di Irak, penduduk Homs, Ghautah, Palestina dan Sulaiman bin Hisyam serta  Syiah yang tidak puas dengan kepemimpinan mereka.  Penguasa Ummayah kian jauh dari tatanan ajaran Nabi Muhammad SAW dengan kehidupan penuh kemewahan mereka dan memancing keturunan Al Abbas ibn Abd. Al Muthalib dari keturunan Paman Nabi Saw yang didukung Bani Hasyim untuk mengembalikan mereka sesuai tuntunan Nabi SAW.  Berakhirnya kekuasaan Bani Umayyah pada 750 M seiring dengan gempa bumi besar yang melanda Yerusalem dan menghancurkan istana-istana termasuk Masjidil Aqsha.

Bani Abbasiyah

Dinasti Abbasiyah adalah dari keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad SAW, didirikan oleh Abdullah Al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Al-Abbas. Kekuasaan kekhalifahan di ambil alih secara paksa sewaktu Khalifah Marwan II sedang berkuasa. Dinasti Abbasiyah berkuasa sangat lama dari 132H/750M hingga 656H/1258M (sekitar 500 tahun)  dengan sistem pemerintahan yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi sosial politik masa itu. Khalifah Mansur menjadi bapak penguasa Abbasiyah yang memindahkan ibukota kekuasaannya ke Baghdad. Mansur kemudian memperbaiki Al Aqsha yang rusak dengan melebur pintu emas dan perak Kubah batu yang diberikan oleh Abdul Malik.

Pada tahun 800 M Khalifah yang berkuasa adalah Harun Al Rasyid yang menjalin hubungan baik dengan Kaisar Charles yang Agung (Charlemagne) Raja dan Frank yang menguasai wilayah Prancis, Jerman dan Italia yang dinobatkan sebagai Kaisar Romawi oleh Paus di Roma. Charlemagne memandang dirinya sebagai pewaris misi Konstantine dan Justinian untuk menjadi kaisar Romawi yang universal dan itu mengarah ke Kota suci. Dalam satu hari Natal Uskup Yerusalem menyerahkan kunci-kunci gereja Makam suci kepada beliau yang juga direstui oleh Khalifah Harun Al Rasyid yang merupakan puncak dari imperium Abbasiyah. Ketika Harun wafat, putranya yang menggantikan, Khalifah Ma’mun seorang pembelajar Sains yang mendirikan akademi sastra sains yang terkenal. Pada 831 M dia mengunjungi Yerusalem dan membangun gerbang  baru di Kuil dan menghapus nama Abdul Malik dan mengganti dengan namanya sendiri, mengambil emas dari Kubah sampai akhirnya emas di kubah kembali lagi pada 1960an.

Tahun 841 M, seorang tokoh petani memberontak dan menguasai Yerusalem.  Ahmed bin Tulun keturunan budak Turki tahun 877 M merebut kembali Yerusalem. Ahmed bin Tulun yang lebih dikenal dengan Dinasti Tulunid kemudian memerintah wilayah Mesir dan Syria pada 868 – 905 M sebagai Gubernur dari kekhalifan Abbasiyah. Ibn Tulun adalah salah seorang yang membuat Mesir mempunyai kekuatan politik setelah Firaun Prolemaic. Setelah Ibn Tulun wafat, anak keturunannya berebut kekuasaan sampai akhirnya kekuasaanya diambil kembali oleh Abbasiyah.

Tahun 935 M Muhammad bin Tughj – Al Khshid-, salah satu Panglima Abbasiyah datang dan menguasai Mesir dan Yerusalem. Beliau adalah bapak dari keturunan  Dinasti Sunni Ikhshidid di Mesir dan mengalahkan invasi Fatimiyah. Dia kemudian mengubah paksa satu bangunan tambahan di Gereja Makam suci menjadi Masjid pada 935 M. Kemudian di tahun 938 M orang Islam menyerang orang Kristen dan orang Yahudi pun terbelah menjadi dua golongan yaitu sekte Rabbanite yang dipimpin oleh hakim dan sarjana yang dikenal Gaon (Genius) yang hidup sesuai Talmud yaitu dari riwayat - riwayat lisan dan sebuah sekte baru, Karaite yang hidup berdasarkan Taurat dan menolak semua hukumm baru, mereka percaya akan suatu saat nanti akan kembali ke Zion. Dan terdapat 1 lagi komunitas Yahudi, Khazar dengan sinagog mereka sendiri.

Sang AI Khshid wafat pada 946 M dan kekuasaan jatuh kepada anaknya Unijur dibawah kekuasaan kuat seorang budak Negro bernama Abul Misk Kafur yang sedari kecil di bawa dan di pelihara Al Khshid. Kafur menjadi Panglima angkatan perang yang menaklukan Palestina dan Syria. Pada saat bersamaan nun jauh di Byzantium tentara kaisar menyerbu Syria dan akan merebut Yerusalem yang memicu kerusuhan anti Kristen. Pada 966 M Gubernur mulai membuat marah orang Kristen dengan meminta pajak lebih tinggi kepada Uskup John yang kemudian berkorespondensi dengan Konstantinopel, Gubernur didukung orang Yahudi (yang benci orang Byzantium) kemudian membakar sang Uskup dan menyerang Gereja makam suci. Kafur kemudian wafat.

Semasa Dinasti Abbasiyah, Islam berkembang sangat pesat dan menjadi pusat pengetahuan dunia masa itu. Astonom Islam Al Fazari, Al Farghani sangat terkenal di Eropa.  Ibnu Sina dan Ar Razi adalah ahli kedokteran Islam yang menerbitkan ensiklopedia kedokteran terbesar dalam sejarah. Ahli optikal Abu Ali Al Hasan ibn Al Haitsami atau Al-hazen, Jabir ibn Hayyan ahli kimia, ahli matematika (aljabar) dan astronomi Muhammad ibn Musa, Al-Mas’udi ahli sejarah dan geografi. Tokoh filsafat terkenal lain al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd atau Averroes.

 Salah satu inovasi terbesar adalah diterjemahkannya karya-karya sastra dan filosofi dari Yunani, Persia dan Hindustan, salah satunya adalah kontribusi dari ahli filsafat Yunani Aristotelles menjadi membuatnya terkenal di Eropa. Penemuan ilmu geografi, matematika dan astronomy seperti Eucklid dan Claudius Prolemy disempurnakan oleh tokoh-tokoh Islam masa itu seperti Al Biruni dan sebagainya. Kemajuan peradaban dan kebudayaan beriringan dengan kemajuan politik.

Kekaisaran Abbasiyah pada abad ke 9 menggunakan tentara-tentara budak yang dibentuk oleh Ma’mun dan mereka namakan Mamluk. Tentara ini berasal dari Turki, Berber, Afrika utara dan Slav Eropa timur. Mamluk kemudian merebut kekuasaan yang berawal dari perebuatan kekuasaan Ayyubiyah yang merupakan kepanjangan tangan Abbasiyah dan mendirikan kerajaan sendiri di Mesir, memindahkan ibukota dari Baghdad ke Cairo setelah diserang Tartar sebelum akhirnya Abbasiyah  benar-benar hancur oleh serangan Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan.

Khalifah Abbasiyah dalam perkembangannya lebih dianggap sebagai symbol dari kekuasaan keagamaan sementara kekuasaan tersebar di beberapa wilayah dengan dinasti-dinasti kecil. Abbasiyah pada periode ketiga (334-47/105 M) sempat berada di bawah kendali Bani Buwaih, yang berpaham Syiah. Bani Buwaih kemudian ditaklukan oleh Bani Seljuk atau Salajiqah Al Kubro yang mengembalikan kewibawaan Khalifah Abbasiyah dan mengembalikan paham Sunni.

Masa-masa akhir kekhalifan Abbasiyah (1000 – 1250 M) dimulai dengan pemisahan daerah-daerah kecil dan jauh yang tadinya tunduk kepada Khalifah seperti Bani Ummayah di Spanyol dan Bani Idrisiyyah di Maroko, daulah Aghlabiyyah di Tunisia dan Thahiriyyah di Khurasan. Kecenderungan bergaya hidup mewah dari para penguasa juga melemahkan kekuasaan mereka. Faktor kesukuan dan kebangsaan juga menjadi salah satu penyebab hancurnya Abbasiyah. Orang Persia, Turki, Kurdi dan suku Non Arab lainnya mulai menampakan ego mereka menjadi penguasa disamping kemerosotan ekonomi karena wilayah-wilayah kecil yang tidak mau lagi membayar pajak. Faktor aliran-aliran sesat, golongan Zindiq dan Syiah juga memperlemah kekhalifahan.

Selain itu, pengaruh perang Salib juga memperlemah kekuasaan kekhalifahan. Pada tahun 56H/1258M serangan dari tentara Mongol dengan 200.000 tentara dipimpin oleh Hulagu Khan di masa Khalifah Al Musta’shim benar-benar menghancurkan Abbasiyah. Hulaghu Khan membunuh Khalifah dan seluruh petinggi Abbasiyah secara kejam dan menghancurkan Baghdad. Hulaghu Khan bahkan menghancurkan semua kekayaan kebudayaan dan ilmu pengetahuan sehingga menyebabkan kemunduran peradaban Islam setelah itu.

Kalau dasar-dasar pemerintahan daulah Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu al-Abbas as-Saffah dan Al-Manshur, maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi (775-785 M), al-Hadi (775-786 M), Harun Ar-Rasyid (786-809 M), Al-Ma’mun (813-833 M), Al-Mu’tashim (833-842 M), Al-Watsiq (842-847 M), dan Al-Mutawakkil (847-861 M) sebelum akhirnya kekhalifan ini dihancurkan oleh Hulagu khan.

Dinasti Fatimiyah

Dinasti Fatimiyah adalah cita-cita golongan Syiah untuk meneruskan kekuasaan Ali bin Abi Thalib di Kufah yang telah menyusun kekuatan mereka sejak lama secara diam-diam (Taqiyah). Sa’id bin Husain yang mengaku keturunan dari Fatimah Az Zahra putra Rasulullah saw walaupun tidak dapat dibuktikan secara explisit adalah pendiri Bani Fatimiyah. Sa’id terkenal dengan nama Imam Ubaidillah Al-Mahdi dengan pusat kekuasaannya di Raqqadah. Karena, Raqqadah terlalu dekat dengan kota pusat Sunni, Qayrawan, maka pusat pemerintahan dipindahkan ke Al-Mahdiah, sekitar 16 mil arah tenggara dari Raqqadah pada 915 M.

Pada saat mereka sudah memiliki kekuatan besar tahun 969 M mereka menaklukan banyak wilayah termasuk Mesir pada tahun 972 M yang waktu itu diperintah Al Khshid kepanjangan tangan dari Abbasiyah untuk wilayah Mesir, Mekkah Madinah dan Yerusalem. Khalifah Muizz yang berkuasa pada 973 M menjadikan Kairo sebagai ibukota kekuasaannya dan menguasai wilayah yang besar dari Maroko hingga Suriah, Laut Merah, Afrika, Hijaz dan Yaman, Laut tengah dan Samudera Hindia bahkan hingga Sisilia di Italia selatan. Mereka mengembangkan toleransi non Muslim dengan menempatkan orang-orang Kristen dan Yahudi dalam berbagai posisi penting di pemerintahan sesuai dengan kemampuannya.

Khalifah Muizz yang menguasai Afrika utara pada 973 M dan digantikan oleh Khalifah Aziz. Pengabaian Abbasiyah dan perang dengan Fatimiyah menyurutkan peziarah ke Yerusalem. Pada 974 M kaisar Byzantium John Tzimiskes merebut Damaskus dan berjanji merebut Yerusalem dari pihak Islam tapi dia tak pernah datang. Fatimiyah mendorong pengikut Ismaili dan Syiah berziarah ke Masjid di Yerusalem, tetapi pertempuran di Baghdad memotong rute peziarah-peziarah Sunni. Walaupun peziarah Kristen dari Eropa tetap datang ke Yerusalem.

Khalifah Aziz wafat dan digantikan oleh Putranya, Hakim yang baru berumur sebelas tahun. Ketika dia dewasa Hakim mulai menangkapi dan mengeksekusi orang Kristen dan Yahudi, memerintahkan penghancuran gereja–gereja dan sinagog serta mengubahnya menjadi Masjid-Masjid. Dan pada September 1009 M orang – orang suruhannya mulai menghancurkan Gereja Makam suci sampai tidak ada yang bisa di hancurkan lagi. Hakim bahkan menteror umat Islam Sunni dan Syiah atas personifikasi dirinya sebagai Tuhan. Pada 1021 Hakim menghilang dalam usia tiga puluh enam dan digantikan oleh putra dari saudarinya, Zahir.

Pada tahun 1033, gempa melanda Yerusalem dan meluluhlantakkan semua bangunan termasuk Al Aqsha. Zahir kemudian mengembalikan toleransi, melindungi kedua sekte Yahudi dan Kristen serta membangun kembali Al-Aqsha dan Gereja. Bahkan Kaisar Byzantium Constantinus IX menciptakan Makam Suci baru yang rampung pada 1048 M. Yerusalem kembali berdenyut oleh kehadiran para peziarah- peziarah dari seluruh dunia. Akan tetapi bandit-bandit juga berkeliaran memangsa rombongan peziarah di perjalanan menuju kota suci pada zaman itu.

Dinasti Fatimiyah mulai menyusut ketika diperintah oleh Ma’ad Al Munthasir putra Al Zahir ( 1035-1094 M), kekacauan terjadi dimana-mana, kelaparan melanda warga dan melumpuhkan perekonomian negara. Gubernur Afrika Utara Ziriyah pada tahun 1040 memisahkan diri dan berpindah ke Islam Sunni.  Bani Hilal dan Bani Sulaim tahun 1052 M juga memberontak. Serangan dari pasukan Salib menambah lemah kekhalifahan ini. Kekhalifan kemudian hanya menjadi symbol saja dimana khalifah penggantinya selalu dibawah umur.  

Tahun 1167 pasukan Nuruddin dibawah pimpinan Syirkuh dan Salahuddin al Ayyubi memasuki Mesir dan kemudian menguasainya. Mulanya Salahuddin hanya menjadi Wazir tetapi ketika Khalifah Al Adhid sakit pada tahun 1160 M, Salahuddin kemudian menyebut dirinya Khalifah dengan gelar Al Mustadi yang menjadi awal berakhirnya dinasti Fatimiyah yang telah berkuasa selama 262 tahunn ( 297 H/ 909 M sd 567 H/ 1171 M) dengan 14 khalifahnya dan Fatimiyah mendirikan Universitas Al Azhar yang masih berdiri hingga saat ini.

Dinasti Seljuk

Dinasti Seljuk berasal dari kabilah kecil di suku Ghuz diwilayah Turkistan. Pendiri dinasti ini Saljuk ibn Tuqaq yang merebut kekuasaan dari Bani Buwaih di salah satu wilayah kekhalifahan Abbasiyah pada masa Khalifah Al Malik Al Rahim. Daulah Seljuk diproklamirkan oleh Tughril bek pada tahun 1040 M dan mendapat pengakuan dari Khalifah Abbasiyahh di Baghdad setelah mengalahkan penguasa wilayah Persia, Ghaznawiyah, Masud. Seljuk mengembalikan kewibawaan Khalifah Abbasiyah dan menyatukan wilayah-wilayah kecil yang sudah mulai tercerai berai serta membendung ajaran Syiah yang mulai berkembang dengan ajaran Sunni Salafy mereka. Dinasti Saljuk terbagi kepada 5 cabang yaitu, Saljuk Agung (Raya), Saljuk Kirman, Saljuk Syria, Saljuk Irak dan Saljuk Rum atau Asia Kecil.

Tahun 1053 M, Alp Arshan awalnya ditugasi mengurusi provinsi Khurasan dengan wazirnya Nizam Al Mulk tetapi kemudian keberhasilannya dalam hal ekonomi, juga mendorong dia untuk menjadi penguasa baru dan memperluas wilayah kekuasaanya hingga Kaukasus, Asia kecil yang masih dikuasai Konstatinopel.

Pada 1071, Alp Arslan dalam pertempuran Manzikert mengalahkan dan menangkap Kaisar Byzantium dan mendominasi kekhalifan Baghdad dan bersiap menyerang Yerusalem di pimpin jenderalnya Atsiz. Alp Arslan wafat dan digantikan oleh putranya Malik Syah. Seljuk kemudian merebut Palestina dari Fatimiyah.

Atsiz menyerang dan memporakporakdakan Yerusalem Juni 1073 sebelum akhirnya dia tewas di tangan jagoan perang Turki Ortuq bin Aksab. Ketika mereka menguasai Yerusalem, toleransi agama dan ras sangat dijunjung tinggi, gereja dan sinagog berdampingan dengan masjid-masjid. Putra Ortuq Suqman dan Il Ghazali mewarisi Yerusalem pada 1093 dan terlibat dalam pertempuran tiada henti yang membahayakan peziarah. Pada 1098 angkatan perang dari Eropa Kristen mulai mendekati Yerusalem. Wazir Mesir menawarkan pembagian kekuasaan Seljuk, orang Kristen mendapatkan Syria dan dia mendapatkan kembali Palestina. Kedua putra Ortuq kabur ke Irak dan Wazir kembali ke Kairo. Pemilihan waktu invasi orang Eropa Kristen ke wilayah Palestina pada masa ini adalah tepat di saat orang Arab sudah kehilangan imperiumnya di tangan Seljuk dan kejayaan Abbasiyah tinggal kenangan dan dunia Islam terpecah menjadi kekuasaan kecil kecil yang saling berperang.

Tahun 1092, Nizam Al Mulk di bunuh oleh kaum Hashasin dan Sultan Malik Syah, penguasa terbesar Seljuk wafat dibunuh juga tak lama kemudian yang menyebabkan perebutan kekuasaan diantara keturunannya dan membagi-bagi wilayah ini menjadi kekuasaan yang kecil-kecil yang lemah yang menyebabkan kemunduran mereka sampai akhirnya Dinasti Seljuk berakhir tahun 1258 M saat balatentara Mongol menyerang dan menaklukkan Baghdad.

Pada 03 Juni 1099 pasukan Salib Eropa merebut Ramla dan menduduki Yerusalem. Ribuan orang Islam dan Yahudi mengungsi ke tembok tembok kota suci di saat pasukan Eropa Kristen mengepung Yerusalem dan mulai menghabisi mereka…….

Dinasti Seljuk memberikan sumbangan yang besar terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam di jamannya termasuk karya-karya arsitektur yang mengagumkan. Universitas Nizhamiyah berdiri tahun 1065 dan madrasah Hanafiyah di Baghdad menjadi pusat ilmu pengetahuan. Seljuk banyak membangun Madrasah, perpustakaan dan rumah sakit di berbagai wilayahnya.

Masa Perang Salib (Lihat bab tentang Palestina dan perang Salib)

Masa Salahuddin dan Dinasti Ayyubiyah

Salahuddin Yusuf bin Ayyub adalah putra seorang tentara Kurdi yang lahir di Tikrit pada tahun 1138 M dan dibesarkan di Damaskus. Sejak muda sudah ikut dengan pamannya Shirkuh yang mengabdi pada Imanuddin Zangi dan Nurudddin.   Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah Balbek, Lebanon tahun 534H/1139M, Najmuddin Ayyub (ayah Salahuddin) diangkat menjadi gubernur Balbek dan menjadi pembantu dekat Raja Suriah. Ketika Zangi wafat dan digantikan oleh Nuruddin yang didampingi oleh Shirkuh dan Salahuddin mereka mengepung Yerusalem dan menang melawan Mesir yang waktu itu dikuasai Dinasti Fatimiyah.

Pada tahun 1169, Salahuddin diangkat menjadi seorang wazir. Ketika Khalifah Fatimiyah Al Adid wafat September 1171, Khalifah Abbasiyah di Baghdad memutuskan garis keturunan lama dan mengangkat Salahuddin sebagai penguasa Mesir dengan gelar “Sultan Mesir dari Suriah”. Salahuddin kemudian memproklamirkan dirinya menjadi Sultan pada tahun 1174 setelah wafatnya Nuruddin dan membebaskan Mesir dari kekuasaan Seljuk dan menegakkan Dinasti Ayyubi (1193 – 1250). Beliau kemudian memperluas kekuasaannya ke Afrika utara dan Nubia, wilayah Arabia termasuk Mekkah, Madinah dan Yaman serta wilayah Suriah dan Mesopotamia  juga Palestina dan Transyordania. Beliau menunjuk Maimodes (Musa bin Maimun) seorang filusuf dan dokter Yahudi yang lari dari Andalusia sebagai Rais Al Yahud, kepala masyarakat Yahudi.

Salahuddin beberapa kali menghancurkan pasukan Tentara Salib dan menguasai berbagai wilayah seperti; Sidon, Acre, Ashkleton dan Yerusalem yang direbut pada 2 Oktober 1187. Ketika Salahuddin menguasai Yerusalem, beliau membiarkan orang-orang Yahudi dan Kristen untuk hidup dengan damai di sana dan tidak membalaskan perlakuan kejam tentara Salib yang sebelumnya sudah membantai umat Islam dengan keji sewaktu mereka berkuasa.

Salahudin kemudian menghadang pasukan tentara Salib di Sicilia pada perang Salib III ( 1189 – 1193) walupun akhirnya mereka mundur dari kota Acre. Kedua pasukan kemudian melakukan gencatan senjata dengan sebuah perjanjian damai pada 2 September 1192, Perjanjian Yaffa dimana pembagian pertama Palestina: Kerajaan Kristen mendapat Acre sebagai ibukota, sementara Salahuddin tetap mempertahankan Yerusalem tetapi memberi akses penuh umat Kristen ke Gereja Makam suci. Salahuddin kemudian kembali Ke Damaskus. Beliau wafat dalam keadaan mendengarkan Al Quran pada 3 Maret 1193 ditengah-tengah putra dan keluarganya. Salahudin yang telah berhasil menyatukan umat Islam dan mengembalikan Baitul Maqdis dan menyelamatkan umat Islam dari kekuasaan tentara Salib.

Salahudin mempunyai 17 putra dan 1 orang putri. Sebelum wafat, Salahuddin sudah membagi-bagi wilayah kekuasaannya untuk anak dan kerabatnya. Penguasa-penguasa (Emir) ini memerintah wilayah semi otonom dengan tetap mengakui kedaulatan Sultan Ayyubiyah. Putra sulungnya Al Afdal memegang Damaskus termasuk wilayah Palestina dan Lebanon diusianya yang 22 tahun, membangun Masjid Umar di sebelah makam suci. Beliau memukimkan orang Afrika Utara di perkampungan al Magribi serta membangun madrasah Afdaliyya tak jauh dari tembok barat. Putra-putranya berebut kekuasaan dengan Safadin yang akhirnya menguasai Yerusalem dan digantikan oleh putranya Muazzam I. Putra Salahuddin berikutnya Al Malik Al Aziz Uthman  menguasai wilayah Mesir dan Al Malik Az Zahir Ghazi putra Salahuddin lainnya menguasai Aleppo.

Persaingan putra-putra Salahuddin dalam berebut kekuasaan dimulai ketika Al Afdhal minta agar semua membai’at dirinya menjadi Sultan. Al Aziz digantikan oleh putranya Al Manshur ketika beliau wafat pada tahun 1199 M yang masih berusia belia dan kemudian di lengserkan oleh Al Adil (pamannya) yang merebut kekuasaanya di Mesir pada 1200.  Al Adil kemudian mengambil alih Al Jazira di Mesopotamia Hulu dan mendirikan dinasti Zengid dari Mosul. Putra Al-Adil al-Mu’azzam memegang kekuasaan Karak dan Transyordania.

Setelah Al Uthman wafat, klan Mamluk (prajurit budak) masuk dalam konflik kekuasaan, mereka adalah Mamluk Asadiya dan Mamluk Salahiya. Mamluk Salahiya yang membantu Al Adil menaklukan Kairo serta memproklamirkan diri menjadi Sultan Mesir dan Suriah pada tahun 1200. Dia kemudian menyerahkan Damaskus kepada Mu’azzam, putranya dan Al Jazira kepada Al Kamil, putranya yang lain.

Muazzam Isa kemudian menjadi penguasa Yerusalem, pada tahun 1204 merestorasi tembok-tembok, membangun menara-menara yang tinggi dan mengubah struktur peninggalan dari pasukan Salib di Bukit kuil menjadi tempat suci umat Islam. Beliau juga memukimkan 300 keluarga Yahudi dari Prancis dan Inggris di Yerusalem pada tahun 1209. Kemudian Muazzam Isa dan kakaknya Sultan Kamil di Mesir terlibat perang saudara sampai Muazzam Isa wafat pada 1228 dan digantikan putranya.

Pada tahun 1230, Emir-Emir di Suriah memberontak dari Mesir dan Kesultanan Ayyubiah terpecah. Pemimpin pasukan Muslim Sultan Malikul Shaleh wafat pada tahun 1238 yang kemudian digantikan putranya Malikul Asraff Muzafaruddin Musa. Dinasti Salahuddin terlibat perang dengan tentara Salib yang dipimpin oleh Pangeran Thibault dari Champagne. Putranya kemudian mengalahkan tentara Salib pada 7 desember 1239 akan tetapi Pasukan Salib lain yang kemudian datang dipimpin oleh Richard saudara Hendry III pangeran dari Cornwall mengalahkan pasukan Muslim dan mendapatkan kembali wilayah Yerusalem, Bukit kuil, kubah batu dan masjidil Aqsha diubah menjadi gereja lagi.

Pada 11 juli 1244, Sultan Salih Ayyub menyewa kaum Tartar dari Asia tengah yang diusir oleh imperium baru Mongolia, dipimpin oleh Barka Khan berperang di jalan – jalan Yerusalem, memasuki rumah kaum Armenia, membunuh pendeta, menghancurkan makam suci dan menjarahnya serta membakar dan membongkar makam raja - raja Yerusalem. Sebanyak 6000 orang Kristen mengungsi menuju Yaffa dan 2000 orang dibunuh oleh Tartar hingga hanya sekitar 300an orang Kristen mencapai Yaffa. Orang-orang Tartar itu memporak-porandakan dan menghancurkan Yerusalem dan meninggalkannya dalam kondisi tidak lagi menjadi Kristen sampai abad ke 19.

Pada tahun 1247 Sultan As Salih Ayyub mengembalikannya kembali wilayah kekuasaan Bani Ayyubiyah kecuali wilayah Aleppo. Wafatnya As Shalih Ayyub digantikan oleh Al Mu’azzam Turansah yang kemudian di lengserkan oleh Jenderal Mamluk (1250 M) yang berhasil melawan tentara Salib. Hal ini mengakhiri kekuasaan Ayyubiyah di Mesir ditambah penghancuran Bani Ayyubiyah di Aleppo oleh pasukan Mongol pada 1260. Walaupun Kesultanan Mamluk kemudian mengusir pasukan Mongol dan mengangkat Pangeran Ayyubiyah, Hamat berkuasa sampai akhirnya penguasa terakhir di tahun 1341.  

  1. Palestina  dan Yerusalem dalam Masa Perang Salib

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.”  ( QS Al Baqarah; 193)

Dalam sejarahnya, Palestina dan kota Yerusalem beberapa kali terlibat atau menjadi sebab dari terjadi perang Salib. Apakah perang Salib itu sebenarnya? Apa yang menjadi penyebabnya? Benarkah ini adalah perang antara Islam dan Kristen?

Perang Salib berlangsung dari tahun 1096 – 1487 Masehi dengan beberapa kali peristiwa peperangan. Disebut perang Salib karena setiap anggota pasukan menggunakan simbol-simbol Salib di pakaian, lencana dan panji-panji mereka. Istilah perang Salib juga digunakan untuk eksedisi-ekpedisi kecil ke luar Eropa selama abad ke 16  terhadap kaum Pagan atau non Kristiani untuk alasan ekonomi, politik dan agama.

Penyebab awal terjadinya perang Salib adalah ketika terjadinya konflik di wilayah kekaisaran Romawi Timur dengan bangsa Turki yang mulai menguasai wilayah Anatolia (Turki sekarang). Kekalahan Bizantium dari serangan Seljuk pada 1071 membuat Kaisar Romawi Timur Alexis I khawatir dan meminta bantuan Paus Urbanus untuk mengembalikann wilayah-wilayah yang sudah banyak dikuasi Islam sejak 632 M termasuk kota-kota dan tempat-tempat penting kaum Kristen; Palestina, Syria, Mesir, Turki, Spanyol, Portugis dan lain-lain. Disamping karena kesukaran mereka untuk datang dan beribadah ke Yerusalem semasa Dinasti Seljuk berkuasa sekitar tahun 1095 M.

Sejak abad ke X jalur perdagangan di laut tengah dikuasai oleh orang Islam sehingga pedagang Eropa yang mayoritas Kristen merasa terganggu. Para pedagang besar yang berada di pantai Timur Laut tengah (Venezia, Genoa dan Pisa) berambisi menguasai dan memperluas wilayah mereka di jalur strategis, di sepanjang timur dan selatan Laut Tengah untuk menjadi jalur pusat perdagangan. Mereka tak segan-segan mengeluarkan dana untuk membiayai Perang Salib. Ini menjadi faktor ekonomi yang menyebabkan perang Salib. Bagi rakyat jelata mereka dijanjikan perbaikan ekonomi, kebebasan dan kesejahteraan yang lebih baik jika ikut dalam perang Salib.

Sementara itu kekuasaan umat Islam pada masa itu sedang melemah oleh kekuasaan, kehilangan pemimpin dan pertikaian diantara penguasa. Dinasti Fatimiyah di Mesir kehilangan Khalifah Al Munthasir juga Wazirnya Badr Al Jamal, Dinasti Seljuk kehilangan wazirnya yang begitu berpengaruh Nizham Al Mulk yang dibunuh pada 1092 dan sebulan kemudian Sultan Maliksyah Sultan ke 3 Seljuk juga wafat begitu juga permaisuri, cucunya dan beberapa petinggi dan pemimpin politik lainnya. Khalifah Abbasiyah Al Muqtadhi juga wafat pada tahun 1094 M. Kekuasaan Islam di Spanyol juga sedang goyah ditambah pertikaian antara  keturunan mereka yang berebut kekuasaan memperlemah kekuatan mereka,  sehingga orang-orang Kristen Eropa berani untuk melakukan penyerangan.  Selain itu, keinginan Paus untuk menyatukan kembali orang-orang Kristen di wilayah barat dan timur setelah perpecahan mereka pada 1054 dan menetapkan dirinya sebagai pimpinan tertinggi Umat Kristen sedunia mendorong terjadinya perang salib ini.

Pada 27 November 1095, Paus Urbanus II pada pidatonya di Biara Claremont di Prancis menyeru kepada semua umat Kristen untuk mengusir umat Islam di Yerusalem dan membebaskan Gereja Makam suci. Paus Urbanus II  menjanjikan pengampunan dosa dan jaminan masuk surga serta jaminan hidup dan keselamatan bagi keluarga. Janji-janji ini menggerakan seluruh kalangan mulai dari rakyat biasa, petani, pedagang bahkan perampok bergabung dengan harapan dapat masuk surga.

Periodesasi Perang Salib

Perang Salib terjadi dalam rentang waktu yang tidak sebentar, dengan beberapa fase periode peperangan. Skema penomoran tradisional atas Perang Salib memasukkan 8 ekspedisi besar ke tanah suci selama abad ke-11 sampai dengan abad ke-13. “Perang Salib” lainnya yang tidak bernomor berlanjut hingga abad ke-16 dan berakhir ketika iklim politik dan agama di Eropa berubah secara signifikan selama masa Renaissance.

Perang Salib I (1095-1099 M)

Perang Salib I di sebut juga sebagai periode penaklukan. Janji – janji Paus Urbanus II berhasil memikat dan membangkitkan ratusan ribu semangat umat Kristen untuk berperang. Pada musim semi 1096 sebanyak kurang lebih 300.000 tentara Salib yang terbagi atas lima pasukan berangkat menuju ke Konstatinopel. Di sepanjang  perjalanan mereka membuat keonaran bahkan bentrok dengan masyarakat disepanjang perjalanan (Hongaria dan Bizantium)

Pihak Seljuk tidak berdiam diri dan langsung menghadapi pasukan Salib ini yang kemudian dapat dikalahkan oleh Seljuk. Seljuk menguasai wilayah Bizantium dan menghancurkan pasukan Salib di pertempuran Mazikert dan kemudian menguasai Yerusalem. Godfrey of Buillon kemudian mengambil alih menjadi pimpinan pasukan Salib dan merubah strategi dan dengan merubah tentara Salib menjadi ekspedisi militer dan mengorganisasinya dengan baik. Sehingga akhirnya mereka memenangkan peperangan dan menguasai Yerusalem (Palestina) pada 07 Juni 1099.

Selama satu minggu tentara Salib membantai tak kurang dari sepuluh ribu muslim dan tiga ribu Yahudi dan tidak menyisakan bayi, anak-anak, kaum wanita dan orang tua renta sekalipun. Bahkan yang berlindung di Kubah Shakrahpun mereka sembelih dan lemparkan seperti binatang. Mereka memastikan tidak ada umat Muslim dan Yahudi yang tersisa di setiap sudut kota Yerusalem, jikapun ada mereka dipaksa untuk membersihkan ceceran darah dan daging – daging manusia yang berserakan diantara aliran darah yang menggenang disegenap pojok kota kemudian mereka menyuruh untuk membakarnya.  Masjid dan bangunan milik umat Islam mereka bakar dan hancurkan. Godfrey mereka angkat sebagai penguasa Yerusalem dan ketika dia wafat 1100 M, Baldwin menggantikannya. Dome of Rock mereka rubah menjadi gereja..   

Pada 1115 M, Baldwin menguasai Yordania dan membangun Istana yang mewah dan mengajak orang-orang Kristen Syria yang miskin untuk tinggal di Yerusalem dan mereka menjadi nenek moyang masyarakat Kristen Arab di Palestina saat ini. Baldwin wafat 1118 M pada saat menyerbu Mesir. Penggantinya mengubah kawasan Al Haram Al Syarif menjadi tempat suci Kristen, gudang senjata dan akomodasi. Masjidil Aqsha dibagi-bagi ruangannya, sebagian dijadikan kandang kuda dan onta.

Pasukan Salib menguasai wilayah Anatolia, Aleppo, Tartur,Tripoli, Syam dan Acre. Pasukan Salib kemudian mendirikan empat kerajaan Kristen di Tanah Suci, yaitu Baitul Maqdis, Raha, Enthiokhie dan Tripolisyam serta mengembalikan Nicola pada Bizantium. Kemenangan mereka telah merubah peta kekuasaan dunia Islam masa itu dan menjadikan Yerusalem sebagai kota suci dengan Gereja Makam sucinya yang dipenuhi oleh peziarah Krsiten lagi dimasa penguasaan Ratu Melisende dan Raja Fulk tahun 1131 – 1142.

Perang Salib II (1147-1187 M)

Raja Fulk wafat pada 1142 dan putranya, Baldwin III yang  baru berumur duabelas tahun menggantikannya. Gubernur Seljuk untuk kota Mousul, Irak Imaddudin Zangy, pada tahun 1144 merebut Edesa dan sebagian wilayah Syria dan menghancurkan negara pertama tentara Salib. Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah Balbek, Lebanon tahun 534 H/1139 M, Najmuddin Ayyub (ayah Salahuddin) diangkat menjadi gubernur Balbek dan menjadi pembantu dekat Raja Suriah. Zangy mendapat gelar Ornamen Islam dari Khalifah Abbasiyah. Hal ini yang membuat Ratu Melisende meminta Paus Eugenius II menyerukan perang Salib II. Zangy wafat dan anaknya Nuruddin Sidi Saefuddin Gazi menggantikannya dan menguasai Syria. Nurudddin pada tahun 1169 mengepung Yerusalem ketika Emirnya adalah Shirkuh yang dibantu keponakan mudanya Salahuddin menang dalam perang melawan Mesir.

Salahuddin Yusuf bin Ayyub adalah putra seorang tentara Kurdi yang lahir di Tikrit pada tahun 1138 dan dibesarkan di Damaskus. Pada tahun 1169, Shalahudin diangkat menjadi seorang wazir dan kemudian memproklamirkan dirinya menjadi Sultan pada tahun 1174 setelah wafatnya Nuruddin dan membebaskan Mesir dari kekuasaan Seljuk dan menegakkan Dinasti Ayyubi (1193 – 1250).

Sewaktu Nuruddin wafat 15 Mei 1174, penguasa Yerusalem Raja Amaury yang menggantikan Baldwin III menyerang Syria dan Mesir. Sewaktu beliau wafat dan digantikan oleh putranya Baldwin IV, Saladdin merebut Damaskus dan menyatukan Syria, Mesir, Yaman sebagian Irak dalam kekuasaannya dan bergerak untuk menyerbu Yerusalem. Walaupun Baldwin sempat memukul mundur Salahuddin sewaktu mereka menyerang Ashkleton tetapi Salahuddin lolos dan tetap menguasai Mesir dan Syria.

Pada tanggal 4 Juli 1187 perang Salib II terjadi di Hittin dekat Baitul Madqis dengan pasukan Salib dipimpin oleh Lode Wiyk VII atau Louis VII (Raja Prancis), Bernard de Clairvaux dan Concrad III dari Jerman. Sementara pasukan Islam yang dipimpin oleh Salahuddin didampingi putranya Afdal terdiri dari orang Turki, Kurdi dan Arab. Pasukan Islam berhasil memenangkan pertempuran dan menumpaskan pasukan Salib. Uskup Acre terbunuh dan salib asli direbut. Raja Yerusalem di tawan dan para ksatrianya kemudian di kirim ke Damaskus beserta salib asli. Sementara Salahuddin menaklukan wilayah-wilayah yang tersisa; Sidon, Acre, Ashkleton dan menuju Yerusalem.

Yerusalem direbut kembali pada 2 Oktober 1187 oleh Salahuddin yang sudah mengepungnya sejak 20 September 1187. Pada saat Salahuddin menyerang dan menghancurkan tembok-tembok kota pada 30 September 1187, penguasa saat itu, Balian bernegosiasi agar Salahuddin tidak membunuh dan menghancurkan orang-orang Kristen yang masih tersisa.

Yerusalem kembali dikuasai oleh kaum muslimin, suara adzan kembali berkumandang di seluruh penjuru negeri dan Salib emas diturunkan dari Kubah Shakrah dengan iringian takbir Allahu akbar.  Al Haram Al Syarif di bersihkan dari orang – orang Kafir. Kandang-kandang kuda di Masjidil Aqsha di tiadakan. Salahuddin kemudian menaruh mimbar kayu berukir milik Nuruddin dari Aleppo dan memilih Qadi Aleppo berkhotbah di sana.

Walaupun pada waktu tentara Salib berkuasa mereka membunuh begitu banyak orang-orang Islam, akan tetapi sewaktu Salahuddin merebutnya kembali, kaum muslimin tidak melakukan balas dendam bahkan memperlakukan mereka dengan baik. Salahudin pun mengijinkan Kaum Yahudi yang terusir untuk kembali ke Yerusalem dan hidup berdampingan dengan damai. Gereja makam suci tidak dihancurkan, hanya ditutup selama 3 hari dan kemudian diserahkan kepada Ortodoks Yunani. Salahuddin mentoleransi gereja seperti Umar bin khatab ra tetapi melarang bel-bel dibunyikan dan menggantinya dengan kumandang suara Adzan yang diringi oleh kentungan kayu dan dentuman meriam selama ratusan tahun hingga abad ke 19. Sebagai gereja di luar tembok di rubah menjadi bangunan wakaf Salahiyah yang masih ada sampai saat ini. Sarjana dan ilmuwan muslim serta para sufi didatangkan ke Yerusalem. Salahuddin juga mendatangkan orang Armenia dan Yahudi dari ras Ashkelton, Yaman dan Maroko ke Yerusalem. Kejatuhan Yerusalem ke tangan Salahuddin menggegerkan Eropa dan membuat raja-raja di Eropa dan Paus memobilisir lebih banyak tentara Salib untuk mempersiapkan perang Salib III.

Perang Salib III ( 1189 – 1193)

Pasukan Salib kemudian menyusun kekuatan yang lebih besar dan kuat serta dipimpin oleh raja-raja Eropa yang besar, Frederick I (The Lion Heart, Raja Inggris) dan Philip II (Augustus, Raja Prancis) dengan membagi pasukan yang menempuh jalur darat dan Laut. Raja Inggris, Frederick yang menempuh darat tewas di sungai Armenia dan melanjutkan perjalanan dipimpin putranya. Sementara pasukan Raja Philip yang memakai jalur laut dihadang oleh pasukan Salahuddin di Sicilia, peperangan sengit di menangkan pasukan Salib  dan Salahuddin mundur menuju ke Mesir meninggalkan kota Acre.

Kedua pasukan kemudian melakukan gencatan senjata dengan sebuah perjanjian damai pada 2 September 1192, Perjanjian Yaffa dimana pembagian pertama Palestina; Kerajaan Kristen mendapat Acre sebagai ibukota, sementara Salahuddin tetap mempertahankan Yerusalem tetapi memberi akses penuh umat Kristen ke Gereja Makam suci. Salahuddin kemudian menunjukan Salib asli sebelum akhirnya lenyap selamanya. Salahuddin juga mengijinkan pendeta latin kemballi ke makam suci. Ketika kaisar Byzantium memintanya untuk Orthodok, beliau menunjuk Syeck Ghanin – Al Khazraji sebagai pengawas gereja. Raja Richard kemudian kembali ke Eropa pada 9 Oktober dan Salahuddin  kembali Ke Damaskus. Salahuddin wafat dalam keadaan mendengarkan Al Quran pada 3 Maret 1193 ditengah-tengah putra dan keluarganya.

Pada perang Salib ke III, Salahudin membangun kembali tembok Yerusalem tapi Al Malik Al Mu’azam pada 1219 menghancurkannya dan hingga Ustmaniyah berkuasa, 320 tahun kemudian Yerusalem tidak memiliki tembok kota.

Perang Salib III dikenal sebagai masa perang saudara atau perpecahan di pasukan Salib. Ambisi akan kekuasaan atau materi mengaburkan mereka dari tujuan awal yang ingin merebut Baitul Maqdis atau tujuan agama. Misalnya Pada saat mereka menyerang Mesir (1202-1204 M), pasukan Salib kemudian mengubah haluan menuju ke Konstatinopel dan merebutnya serta menempatkan Baldwin sebagai raja pertamanya. Pada periode ini pasukan Salib banyak menderita kekalahan, salah satunya Raja Prancis, Louis IX dikalahkan oleh pejuang wanita Syajar Ad-Durr. Walaupun demikian, pasukan Salib belajar banyak tentang kebudayaan dan peradaban Islam yang sudah maju hingga kemudian melahirkan Reinassance di dunia Barat.

Perang Salib IV (1202-1204 M)

Muazam Isa yang menggantikan ayahnya Safadin menjadi penguasa Yerusalem, pada tahun 1204 merestorasi tembok-tembok, membangun menara-menara yang tinggi dan mengubah struktur dari pasukan Salib di Bukit kuil menjadi tempat suci umat Islam. Beliau juga memukimkan 300 keluarga Yahudi dari Prancis dan Inggris di Yerusalem pada tahun 1209.

Setelah mengalami beberapa kali kekalahan, pasukan Salib mengambil kesimpulan bahwa jika ingin menguasai Baitul Maqdis kembali maka mereka harus menguasai Bani Ayyub di Mesir yang saat itu menjadi persatuan umat Islam. Mesir waktu itu di perintah Sultan Salim. Pasukan Salib kemudian menguasai Konstantinopel tahun 1204 M dan menggantikan kekuasaan Bizantium dengan kekuasaan Latin. Pasukan Salib dalam perang Salib IV ini didukung oleh Venesia dan bekas kaisar Yunani.  Pasukan Salib dan Raja Salim kemudian membuat kesepakatan untuk berdamai dan mempermudah umat Kristen untuk melakukan ziarah ke Baitul Maqdis pada tahun 1203-1204 M dan 1210 – 1211 M.

Perang Salib V (1217–1221 M)

Pada masa ini pasukan Salib berpusat di Konstatinopel dan mereka terus – menerus melakukan pertempuran dengan pasukan Islam. Pemimpin Pasukan Salib pada perang Salib ke V adalah Kardinal Pelagius bernama Jeande Brunne beserta raja Hongaria. Pasukan Salib merebut Kota pelabuhan Damieta pada 5 November 1219 dan menuju ke Kairo, tetapi mereka membuat kekacauan di Al Masyura di dekat sungai Nil, hingga akhirnya mereka kembali ke Konstatinopel. John Brienne menggelari dirinya Raja Yerusalem dan menikahkan putrinya Yolande dengan Frederick II kaisar Suci Romawi pada 1225.

Perang Salib VI (1228–1229 M)

Periode perang Salib ke VI ini dipimpin oleh Frederick II, Kaisar Romawi  dan Hobien Taufen, raja Italia yang kemudian menjadi raja muda di Yerusalem karena berhasil menguasai Yerusalem dengan cara damai selama 10 tahun pada 1230 M. Beliau membuat perjanjian dengan Sultan Al Malikul Kamil, keponakan Salahuddin Al Ayyubi yang pada 11 Februari 1229 menyerahkan Yerusalem dan Bethlehem. Frederick II memahkotai dirinya menjadi raja Universal dan tertinggi umat Kristen serta mengembalikan semuanya dan kembali melarang Yahudi. Tetapi beliau tidak melarang Muadzin mengumandangkan Adzan sebagai seruan memuji Tuhan.

Pada tahun 1230 Emir-Emir di Suriah memberontak dari Mesir dan Kesultanan Ayyubiah terpecah. Pemimpin pasukan Muslim Sultan Malikul Shaleh wafat pada tahun 1238 yang kemudian digantikan putranya Malikul Asraff Muzafaruddin Musa. Dinasti Salahuddin terlibat perang dengan tentara Salib yang dipimpin oleh Pangeran Thibault dari Champagne. Putranya kemudian mengalahkan tentara Salib pada 7 desmber 1239 akan tetapi Pasukan Salib yang kemudian datang dipimpin oleh Richard saudara Hendry III pangeran dari Cornwall mengalahkan pasukan muslim dan mendapatkan kembali wilayah Yerusalem, bukit kuil, kubah batu dan masjidil Aqsha menjadi gereja lagi.

Pada 11 juli 1244, Sultan Salih Ayyub menyewa kaum Tartar dari Asia tengah yang diusir oleh imperium baru Mongolia, dipimpin oleh Barka Khan berperang di jalan–jalan Yerusalem, memasuki rumah Armenia, membunuh pendeta, menghancurkan makam suci dan menjarahnya serta membakar dan membongkar makam raja- raja Yerusalem. Sebanyak 6000 orang Kristen mengungsi menuju Yaffa dan 2000 orang dibunuh oleh Tartar hingga hanya sekitar 300an orang Kristen mencapai Jaffa. Kaum Tartar itu memporak-porandakan dan mengancurkan Yerusalem dan meninggalkannya dalam kondisi tidak lagi menjadi Kristen sampai abad ke 19.

Perang Salib VII (1248–1254 M)

Tahun 1248 M, Raja Louis IX dari Prancis memimpin pasukan Salib pada perang Salib ke VII dan berhasil menguasai Damietta pada 1249 M. Walaupun akhirnya Louis IX ditangkap  6 April 1250 M oleh pasukan Sultan Ayyubiyah Turanshah yang di dukung oleh pasukan Mamluk dan menukarnya dengan uang tebusan

Pada tahun 1247, Sultan As Salih Ayyub mengembalikan kembali wilayah kekuasaan Bani Ayyubiyah kecuali wilayah Aleppo. Wafatnya As Shalih Ayyub digantikan oleh Al Mu’azzam Turansah yang kemudian di lengserkan oleh Jenderal Mamluk yang berhasil melawan tentara Salib. Hal ini mengakhiri kekuasaan Ayyubiyah di Mesir ditambah penghancuran oleh pasukan Mongol pada 1260. Walaupun Kesultanan Mamluk kemudian mengusir pasukan Mongol dan mengangkat Pangeran Ayyubiyah, Hamat berkuasa sampai akhirnya penguasa terakhir di tahun 1341.  

Perang Salib VIII (1270 M)

Louis IX selalu menyesalkan hasil perang salib VII yang membuat dia tertawan oleh tentara Mamluk. Sehingga 20 tahun kemudian diusianya yang ke 56 Louis IX merencanakan untuk kembali merebut tanah suci. Beliau juga terusik dengan merangseknya pasukan Mamluk yang menguasai wilayah – wilayah yang tadinya dikuasai tentara Salib.

Louis IX kemudian menyerang Tunisia pada 1270 agar mereka dapat menyerang dan menguasai Mesir akan tetapi Louis IX dan putranya Jean Tristan wafat karena disentri. Putranya yang lain Philippe III sebagai raja baru walaupun perang sesungguhnya dipimpin oleh saudara Louis IX, Charles I dari Anjou yang menjadi raja Sisilia waktu itu. Mereka menyerang Akko, ibukota dari sisa – sisa kerajaan Yerusalem setelah dihancurkan kaum Baibar.

Perang Salib IX (1271-1272 M)

Perang Salib IX ini terkadangkan di kelompokan dalam perang Salib VIII karena merupakan kelanjutannya dan ini adalah perang Salib besar yang terakhir di tanah suci pada abad pertengahan. Kemenangan Mamluk atas Mongol membuat mereka menguasai wilayah-wilayah tentara Salib dan merekapun meminta bantuan ke Eropa.

Raja Edward I putra Hendry III dari Inggris kemudian  berlayar ke Akko dan menyerang pasukan Baibars. Setelah menguasai Syria, Edward kemudian kembali ke negaranya dan merasa tidak mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan di wilayah tentara Salib yang masih tersisa. Sementara itu Pasukan Mamluk merebut Antioch (1268), Tripoli (1289) dan Benteng Akko (1291) dan menguasainya tanpa perlawanan yang berarti. Pada saat ini Kekuasaan di Mesir berpindah dari Dinasti Ayyubiyah ke Dinasti Mamalik yang panglima perangnya bernama Baibars Qalawun dan Ibnu Taimiyyah.

Perang Salib membuat posisi masyarakat Kristen merosot di tanah suci. Sejak Islam berkuasa, walaupun sebagai minoritas akan tetapi masyarakat Kristen di Yerusalem diberikan hak-hak untuk beribadah secara damai. Akan tetapi setelah perang Salib malah hak-hak mereka berkurang dan mereka tidak mendapatkan ketentraman.

Sementara itu, orang-orang Yahudi adalah yang paling menderita karena mereka di anggap sebagai pembunuh Yesus. Tentara salib tidak ada belas kasihan terhadap orang Yahudi dan berusaha melenyapkan mereka dari Yerusalem beserta dengan tanda-tanda dan tradisi mereka. Walaupun upaya ini tidak berhasil, dan masih ada beberapa daerah dengan orang-orang Yahudi yang masih bertahan. Kota Akko sendiri menjadi sebuah pusat pendidikan Yahudi di Palestina pada abad ke 13 dan sebagian hidup damai dengan umat muslim. Pada abad ke 13 juga banyak orang-orang Yahudi yang kembali dari pengungsian mereka di Afrika Utara dan semenanjung Arabia. Dari tahun ke tahun semakin banyak orang-orang Yahudi yang kembali ke wilayah ini hingga masa pemerintahan Ustmaniyah tahun 1518.

Perang Salib adalah sebuah masa kelam dalam periode kemanusiaan terlepas dari ras dan agama serta suku bangsa. Ratusan ribu manusia dibantai, Yahudi, Muslim dan Kristen selama kurun dua abad masa perang Salib berlangsung. Bangunan – bangunan suci di jarah bahkan dihancurkan. Kebiadaban tentara Salib yang haus darah membabi buta menghancurkan manusia tanpa ampun; bayi, anak-anak, wanita bahkan orang-orang tua renta mereka habisi tanpa tersisa. Genangan darah membanjiri jalan-jalan kota yang dipenuhi oleh mayat-mayat manusia yang bertumpuk-tumpuk tak beraturan. Bahkan di dalam tempat suci pun, orang – orang Yahudi dan Muslim yang bersembunyi tak luput dari incaran tentara salib. Hal yang berbeda ketika pasukan Muslim memenangkan pertempuran, dimana mereka memperlakukan musuh mereka, kaum Kristen dengan baik dan sebagaimana mestinya.

D.Palestina setelah Perang Salib

“ Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkann kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali ( negeri itu) “ ( QS Al Isra; 16)

Pada perang Salib besar terakhir tahun 1271 – 1272 M, Mamluk menguasai wilayah–wilayah pasukan Salib. Pasukan Mamluk merebut Antioch (1268), Tripoli (1289) dan Benteng Akko (1291) dan menguasainya tanpa perlawanan yang berarti. Pada saat ini Kekuasaan di Mesir berpindah dari Dinasti Ayyubiyah ke Dinasti Mamluk yang panglima perangnya bernama Baibars Qalawun dan Ibnu Taimiyyah.

Periode Dinasti Mamluk 1260–1516

Mamalik adalah jamak dari Mamluk yang berarti budak. Budak-budak ini berasal dari orang-orang yang di  beli oleh penguasa Ayyubiyah dan lalu dididik dan dijadikan tentara. Mereka berasal dari daerah Kaukasus, laut Kaspia, suku Kurdi dan Mesir, Turkistan dan Asia tengah, Persia, Rusia dan sebagian kecil Eropa. Mamluk berasal dari orang tua yang merdeka bukan dari hamba sahaya. Oleh Sultan Al Malik Al Salih penguasa Ayyubiyah mereka dijadikan pengawal kerajaan dan mendapatkan imbalan istimewa dalam bentuk materi.

Kerajaan Mamluk terbagi menjadi dua periode berdasarkan daerah asalnya yaitu  Golongan Mamluk Bahri (1250-1390) yang  berasal dari Kawasan Rusia Selatan, Mongol dan Kurdi. Ditempatkan di daerah Pulau Raudhah Sungai Nil sehingga dikenal sebagai Al Mamalik al Bahriyyah (laut). Mereka adalah budak-budak yang dibeli oleh Sultan Al Shalih. Golongan kedua Mamluk Burji (1382-1517) yang berasal dari etnik Syracuse, Kaukasus. Sultan Qala’wun menempatkan mereka di banteng al Burj Kairo sehingga dinamakan Burji. Mamluk Burji ini adalah yang bertahan pada Dinasti Mamluk. Raja dinasti Mamluk seluruhnya berjumlah 47 orang, 24 sultan dari Mamluk Bahri dan 23 Sultan dari Mamluk Burji.

Berdirinya Dinasti Mamluk berawal sejak wafatnya Sultan terakhir dari Ayyubiyah Sultan Al Malik As Shaleh yang wafat tahun 1249 M. Putranya, Turansyah yang berasal dari istrinya yang keturunan Kurdi dianggap menjadi ancaman karena Turansyah dekat dengan tentara asal kurdi.

Mamluk Bahri (648-792 H/ 1250-1389 M)

Berdirinya Dinasti Mamluk berawal sejak wafatnya Sultan terakhir dari Ayyubiyah Sultan Al Malik As Shalih yang wafat tahun 1249 M. Putranya, Turansyah yang berasal dari istrinya yang keturunan Kurdi. Saat itu Turansyah sedang bertempur di Syam dan istri Al Shalih Syajarah al Durr memegang kekuasaan dan berperang melawan pasukan Salib yang dipimpin Louis IX di Mesir. Turansyah dianggap menjadi ancaman karena beliau dekat dengan tentara asal kurdi sehingga beliau kemudian di bunuh oleh Aybak dan Baybars, panglima Mamluk tahun 1250 M. Kekuasaan di pegang oleh Sultan Wanita Syajarah Al Durr selama 80 hari sebelum akhirnya beliau di tegur oleh khalifah Abbasiyah yang tidak menginginkan penguasa di tangan perempuan. Syajarah kemudian menikah dengan Izzudin Aybak yang menggantikannya dengan maksud untuk mengendalikan kepemerintahan akan tetapi Aybak kemudian membunuhnya dan mengambil kekuasaan secara penuh. Aybak kemudian mengangkat seorang keturunan Ayyubiyah, Musa menjadi petinggi tetapi kemudian Musa juga di bunuh dan mulailah dinasti Mamluk berkuasa dengan habisnya keberadaan Ayyubiyah.

Aybak hanya berkuasa selama tujuh tahun dan dilanjutkan oleh anaknya Ali yang karena masih muda kemudian mengundurkan diri dan digantikan oleh Qutuz (1259). Qutuz dan panglimanya Baybars menghadapi serangan Mongol pada 13 september 1260 di Ain Jalut dan berhasil menghancurkan Mongol yang membuat penguasa-penguasa Islam disekitarnya menyatakan setia kepada Mamluk. Pada saat itu Mongol adalah sebuah kekuatan besar yang sulit dihancurkan dan sudah menguasai banyak wilayah termasuk menghancurkan Abbasiyah pada 1258 M.

Baybars kemudian mengambil alih kekuasaan (1260-1277 M) dan berhasil menghancurkan pasukan Salib di sepanjang Laut tengah dan Syria serta juga menguasai wilayah Nubia (Sudan) dan wilayah laut merah. Baybars adalah sultan Mamluk terbesar dan menghidupkan kembali kekuasaan Abbasiyah yang sempat dihancurkan oleh Mongol sebelumnya. Baybars kemudian mulai memasuki Yerusalem pada 1263 untuk menyucikan dan mengislamkannya kembali. Baybars merenovasi Kubah Batu dan al Aqsha serta mempromosikan perayaan baru di Makam Nabi Musa as di Yericho. Dinasti Mamluk menguasai Yerusalem selama 300 tahun kemudian dan mengusir tentara Salib yang masih tersisa.

Selain kuat di bidang militer, pemerintahan Baybars juga mengalami kemajuan ekonomi dan perdagangan dengan menjadikan Kairo sebagai pusat strategis jalur perdagangan Asia Barat dan  Laut Tengah. Baybars juga menjalin hubungan yang baik dengan penguasa-penguasa lainnya termasuk dengan Baraka, ponakan Hulagu Khan penguasa Golden Horde dan Kipchak. Di bidang agama Baybars mengangkat empat hakim yang mewakili empat Mazhab.

Jatuhnya Baghad oleh Mongol mengakibatkan sebagian besar ilmuwan mengungsi ke Mesir dan Mesirpun berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan dan peradaban Islam baru. Ilmu-ilmu sejarah, kedokteran, Matematika, Astronomi dan ilmu agama berkembang dengan pesat di Mesir di zaman Mamluk. Di bidang sejarah tercatat nama-nama beberapa pakar, antara lain Ibnu Khalikan, Ibnu Khaldun (penulis kitab al-‘Ibar), Abu al-Fida’, Ibn Tagri Bardi Atabaki, al-Maqrizi yang terkenal sebagai seorang penulis sejarah kedokteran. Bidang ilmu kedokteran juga mengalami kemajuan dengan adanya penemuan-penemuan baru. Abu Hasan Ali Nafis (w.1288) seorang kepala rumah sakit Kairo menemukan susunan dan peredaran darah dalam paru-paru manusia, tiga abad lebih dahulu dari Servetus (orang Portugis). Selain itu, juga terdapat tokoh-tokoh lain, seperti Nasiruddin at-Tusi (1201-1274) seorang ahli observatorium, dan Abu Faraj Tabari (1226-1286 M), ahli matematika. Bidang seni arsitektur juga berkembang dengan baik dengan munculnya berbagai bangunan masjid dan sekolah yang megah dan indah. Salah satu yang masih tersisa adalah masjid Hasan di Kairo. Baybars kemudian wafat pada 1 Juni 1277.

Pada 18 Mei, 1291, Mamluk menyerbu ibukota Frank, Akko dan menghancurkan pasukan Salib yang ada disana. Sementara Mongol menghancurkan Yerusalem dengan hanya menyisakan 2000 orang Islam, 300 Kristen dan 2 Yahudi. Raja Kristen dari Armenia, Hethoum kemudian menyerbu Yerusalem pada Oktober 1299 dengan 10.000 pasukan Mongol. Mereka melawan pasukan Mamluk selama kurang lebih satu abad lamanya.

Mamluk kemudian di pimpin oleh Bani Bibarisiyah salah satu sultannya Al Mansur Qalawun (678 H-689 H/ 1280-1290 M) dan putranya Nashir Muhammad (696 H/1296 M). Nashir Muhammad menyebut dirinya Sultan Al Quds dan memasuki Yerusalem pada 1317, menghiasi bukit suci, membentengi kembali menara Dawud, menambahkan sebuah masjid, membangun pendopo serta madrasah di Bukit kuil, menatapi kembali Kubah batu dan al Aqsha, menambahkan menara di Gerbang Rantai dan gerbang penjual katun serta pasar penjual katun yang masih ada hingga saat ini. Beliau menyebarkan kemegahan Yerusalem dan mengundang peziarah Islam untuk datang kembali. Peziarah ini melakukan kegiatan Thawaf dan menciumi batu-batu yang sebelumnya tidak pernah dilakukan. Sampai akhirnya praktek bid’ah ini di hancurkan oleh Ibnu Taimiyah.

Sultan tidak mempercayai kaum Mamluk dan mulai mengambil budak-budak dari Georgia atau Circassia sebagai pengawalnya. Sultan juga menyerahkan Gereja makam suci kepada orang-orang Georgia. Tahun 1333 dia membolehkan Raja Robert dari Naples memperbaiki gereja dan memiliki Cenacle di Bukit Zion. Sultan Al Quds akhirnya wafat pada 1341 meninggalkan perang saudara di antara putranya.

Mamluk kemudian dipimpin oleh keturunan Muhammad setelah Bani Qalawun, hingga sembilan Sultan. Sultan terakhir dari Dinasti Mamluk berasal dari Bani Sya’baniyah, Al-Shalih Hajj Assyraf bin Sya’ban sekitar tahun 791H/1388M. Beliau di kudeta oleh Sultan Barquq yang menjadi cikal bakal sultan pertama pada pemerintahan Mamluk Burji.

Mamluk Burji (792-923 H./ 1389-1517 M)

Kekuasaan Mamluk Burji dimulai sejak Sultan Barquq (784-801 H/1382-1399 M), sebagaimana dulu mereka menghalau Hulagu Khan, kini mereka berhadapan dengan serangan dari TimurLenk. Timurlenk (1170 M) adalah penakluk dan penguasa kejam keturunan Turki-Mongol dari Asia Tengah, Samarkhan. Beliau mengaku adalah keturunan Jengis Khan dan sudah beragama Islam. Timurlenk melebarkan kekuasaannya ke berbagai wilayah termasuk menyerang wilayah Mamluk di Mesir, Baghdad, Tikrik dan Persia. Timurlenk menyerang Syria pada 1401 M dan memasuki Aleppo. Menghancur leburkan banyak bangunan masjid dan sekolah yang dibangun pada zaman Nuruddin Zanki dan Ayyubi hingga akhirnya Damaskus jatuh tahun 1401. Mamluk panik karena, jika Damaskus jatuh maka Kairo dan Palestina juga akan segera dikuasainya. Para ulama kota kemudian memutuskan untuk menyerahkan kunci kubah batu kepada Timurlenk yang berada di Damaskus, tetapi Timurlenk melanjutkan penaklukannya ke Anatolia Turki untuk menaklukan kerajaan baru Ustmaniyah. TimurLenk wafat pada 1405 dan Mamluk kembali menguasai Yerusalem dan sekitarnya.

Mamluk  kemudian menetapkan pajak yang tinggi bagi peziarah yang mulai banyak datang dari berbagai penjuru dunia dan juga kepada penduduk setempat. Sementara kekuasaan Kristen di Yerusalem, Armenian, Georgia dan Katolik juga saling bertikai dan memperebutkan sumber pendapatan dari para peziarah.  Orang-orang Kristen dan Yahudi tidak pernah aman dari penindasan orang Mamluk. Pada 10 Juli 1452 warga Yerusalem menyerukan kampenya anti Kristen, membongkar tulang belulang Pendeta dan menghancurkan salah satu bagian bangunan di Gereja Makam Suci. Qaitbay, anak budak Circassia yang menjadi Jenderal Mamluk dan menyandang mahkota Mamluk pada 1586 membolehkan para biarawan membangun kembali gereja dan memberikan bukit Sion. Pada 1475 dia membangun Madrasah Asyrafiyah dan air mancurnya yang indah. Pada 1480 orang Badui menyerang Yerusalem dan gubernur Yerusalem lari keluar lewat gerbang Yaffa. Yerusalem nelangsa dalam keadaaan morat marit dan merintih dalam kehancuran walaupun masih tersisa sedikit nafasnya.

Penyebab runtuhnya Dinasti Mamluk adalah konflik perebutan kekuasaan diantara para keturunan sultan. Sultan-sultan Mamluk Burji naik tahta pada usia muda dan tidak lama memerintah. Munculnya gaya hidup mewah dan hedonistic sehingga mereka menaikan pajak dari masyarakat, rusaknya moralitas dan rendahnya pendidikan agama khususnya di periode kedua Mamluk Burji dan pergolakan pemberontakan di beberapa wilayah seperti di Syam dan Aleppo serta di selatan Mesir.

Penyebab terakhirnya adalah munculnya kesultanan Turki Ustmaniyah. Ustmaniyah berhasil menaklukan Konstantinopel yang mewarisi kemegahan dan ideologi universal imperium Romawi pada tahun 1453. Tetapi Ustmaniyah juga disibukan oleh Persia dengan Shah barunya Ismail yang menyatukan negerinya dan menerapkan Syiah dua belas Imam. Sementara Mamluk disibukan dengan majunya Portugis di Samudera India, membuat kedua kekuasaan ini bersekutu. Pada 1481 Qaitbay menyambut Pangeran Ustmaniyah Jem Sultan yang sedang dalam pelarian. Tetapi pada 22 Juni 1517 M Sultan Salim Ustmaniyah berhasil mengalahkan Tuman Bay, sultan terakhir Mamluk menjadi akhir era Dinasti Mamluk.

Periode Ustmaniyah

Kerajaan Ustmaniyah atau Ottoman didirkan oleh bangsa Turki dari kabilah Oghus didaerah Mongol dan kemudian pindah ke Turkistan, Persia dan Irak sekitar abad ke 9-10 M. Erthogrul pada abad ke 13 M kemudian pindah ke Anatolia (Asia kecil) dan membantu Sultan Alauddin II (Salajikoh Alaudin Kaiqobad) Sultan Seljuk melawan Bizantium. Erthogul menang dan diberikan sebagian wilayah perbatasan Bizantium dengan Syukud sebagai ibukotanya.

Nama Kerajaan Ustmaniyah diambil dari nama putra Erthogrul yang bernama Usman yang lahir pada tahun 1258 dan menggantikan Erthogul yang wafat tahun 1289 M. Setelah Mongol menyerang Seljuk dan mengakibatkan dinasti Seljuk terbelah-belah, Usman mengklaim wilayahnya dan mendirikan kerajaan baru Turki Ustmaniyah dengan mengangkat dirinya menjadi penguasa tertingginya dengan gelar “Padinsyah Ali Usman” (1281 – 1324 M) dan mulai 1300 M menaklukan wilayah-wilayah disekitarnya yaitu Bizantium dan Broessa. Tahun 1326 M beliau berhasil menaklukan Brousse dan menjadikannya ibukota.

Putra Usman, Urkhan (726-761 H/ 1326-1359 M) kemudian melanjutkan perluasan kerajaan ini dan diikuti oleh raja-raja keturunan mereka berikutnya, Penggantinya Sultan Murad I bin Urkhan (761-791 H/ 1359-1389 M) memperluas kekuasaan hingga ke Eropa dengan menaklukan Adrianopel dan menjadikannya ibukota, Macedonia dan sebagian wilayah utara Yunani. Hal ini yang membuat orang Eropa cemas dan kemudian meminta pasukan Salib untuk mengusir mereka dari benua Eropa tahun 1362 M yang dimenangkan oleh Murad I. Murad I terus menaklukan wilayah Eropa timur seperti Simakov, Sophia Monatsir dan Saloniki.

Murad I digantikan oleh Sultan Bayazid I bin Murad ( 791-805 H/ 1389-1403 M) yang terus memperluas wilayahnya. Bayazid juga berperang melawan pasukan Salib dan TimurLenk di Ankara. Bayazid dan putranya kalah dan ditawan oleh TimurLenk dan wafat tahun 1403 M yang menyebabkan satu-persatu wilayah kekuasaannya lepas hingga putranya Sultan Muhammad I bin Bayazid (816-824 H/ 1403-1421 M) berusaha keras menyatukan dan mengembalikan wilayahnya satu persatu seperti semula. Sayangnya disaat beliau sedang membangun kembali negerinya, beliau wafat di tahun 1421 M

Pengganti Sultan Muhammad I adalah Sultan Murad II bin Muhammad ( 824-855 H/ 1421-1451 M) yang juga melanjutkan usaha ayahnya untuk menyatukan kembali wilayah-wilayah yang telah terlepas disamping menguasai wilayah-wilayah baru. Pasukan Murad II kemudian bertempur dengan pasukan Salib yang diserukan oleh paus Egenius VI. Pasukan Murad II sempat kalah tetapi dengan kegigihan putranya Muhammad mereka akhirnya dapat memenangkan pertempuran.

Wafatnya Murad II dan penerusnya adalah putranya Muhammad II atau Sultan Muhammad Al-Fatih (855-886 H/ 1451-1481 M). Beliaulah diberi gelar Al Fatih karena menaklukan Konstatinopel ibukota kekaisaran Kristen Byzantium yang belum pernah dikuasai oleh penguasa Islam sebelumnya. Keinginan beliau menaklukan Konstatinopel sebagai symbol kemegahan Romawi untuk menyebarkan agama Islam disamping lokasinya yang strategis. Muhammad Al Fatih awalnya mendirikan sebuah benteng besar di pinggir Bhosphorus yang dikenal dengan banteng Rum sebelum menyerang Konstatinopel. Setelah mengepung selama 9 bulan akhirnya kota Konstantinopel jatuh ke tangan umat Islam (29 Mei 1453 M) dan Kaisar Bizantium tewas bersama tentara Romawi Timur. Setelah memasuki Konstantinopel disana terdapat sebuah gereja Agya Sofia yang kemudian dijadikan mesjid bagi umat Islam. Konstatinopel kemudian dirubah namanya menjadi Istanbul dan dijadikan sebagai ibukota kerajaan Turki. Ustmaniyah. Al Fatih kemudian menyebarkan kekuasaanya ke negara sekitarnya seperti Servia, Athena, Mora, Bosnia, dan Italia. Sultan Muhammad Al Fatih wafat dan digantikan oleh Sultan Bayazid II (1481-1512 M) yang lebih mementingkan kehidupan tasawuf daripada perluasan kekuasaan. Beliau akhirnya mengundurkan diri dan digantikan oleh Sultan Salim I  (918-926 H/ 1512-1520 M).

Sultan Salim I pada 24 Agustus 1516 menghancurkan angkatan perang Mamluk di Aleppo yang kemudian menentukan nasib Timur Tengah termasuk Yerusalem berada di bawah kekuasaan Ustmaniyah selama empat abad kemudian. Sultan Salim I menegaskan kepada dunia bahwa dia adalah pemilik kiblat pertama dan menerapkan toleransi kepada Yahudi dan Kristen. Dia kemudian menuju Mesir setelah menaklukan Persia, Mamluk dan membersihkan peluang suksesi dengan membunuh saudara laki-laki, keponakan laki-laki bahkan putra-putranya sendiri, hingga hanya meninggalkan satu putra pada waktu dia wafat pada 1520, Suleiman.

Sultan Sulaiman (926-974 H/ 1520-1566 M) naik tahta pada usia 25 tahun dengan imperium yang membentang dari Balkan sampai Persia, dari Mesir sampai Laut Hitam, menguasai Hongaria tahun 1526 dan Wina, Austria di tahun1532, di Bahghad dia adalah Shah, di Byzantin, dia adalah Caesar, dan di Mesir dia adalah Sultan dan dia menambah satu lagi gelar Khalifah. Suleiman mewarisi Yerusalem dan Mekkah dan memperindah kedua kota suci bagi umat Islam ini. Dia membangun satu Masjid, sebuah pintu masuk dan menara di Citadel dan sembilan air mancur di Yerusalem. Menganti Kubah Batu dengan keramik keramik berglazur yang didekorasi dengan gambar bunga lili dan lotus dalam warna pirus, kobal, putih dan kuning seperti terlihat saat ini. Suleiman membangun tembok-tembok, menggabungkan tembok Herod dan Ummayah di sekitar Bukit Kuil dari menggali reruntuhan gereja dan tembok-tembok lama yang batu-batunya di pilih. Dia juga memasang keramik kubah yang membuat pabrik keramik tak jauh dari Al Aqsha. Secara perlahan populasi warga di Yerusalem meningkat menjadi 16.000 orang dan 2000 adalah Yahudi. Diseluruh kekuasaannya, populasi mencapai 15 juta orang dan terbesar di tiga benua. Pembangunan Yerusalem ini di dapat dari hasil pajak Mesir.

Pada 1492 Raja Ferdinand dari Aragon dan Ratu Isabella dari Castile menaklukan Granada, kota Islam terakhir di Spanyol dan merayakan perang Salib mereka yang sukses di Spanyol menggempur Muslim dan Yahudi. Mengusir Yahudi keluar dan menjadi diaspora di berbagai negara Eropa dan juga di Ustmaniyah. Suleiman kemudian memberikan kekuasaan kerajaan Tiberia di Galilee untuk Joseph orang Yahudi dokter kepercayaannya dan memukimkan Yahudi disana. Sultan kemudian membangun jalan untuk para Yahudi dapat beribadah di dekat Bukit Kuil dan Sinagog mereka di sekitar Bukit Kuil dan mengaturnya sangat ketat karena lokasi tersebut berdekatan dengan pemukiman Islam.

Suleiman kemudian mengusir kaum Kristen Fransiska dari Makam Dawud dan membangun sebuah Masjid. Tempat sakral bagi tiga agama, situs tentara Salib Byzantium, Sinagog Yahudi dan Coenaculum Kristen ini menjadi tempat suci Islam Nabi Dawud  As dan menunjuk Syekh Sufi Dajani menjaganya turun temurun hingga tahun 1948. Politik dan intrik antar umat Islam, Yahudi dan Kristen terus bergulir. Gereja Makam suci lalu dikuasai oleh delapan sekte dan Armenian yang terkuat, pasang dan surut.

Suleiman akhirnya wafat setelah empat puluh lima tahun berkuasa, putranya Salim II menggantikannya mengendalikan imperium yang luas itu. Pada tahun 1590 Pemberontak Arab memasuki Yerusalem dan merebutnya, membunuh gubernurnya. Para pemberontak di kalahkan oleh dua bersaudara Balkan, Ridwan dan Bairan Pasha, anak budak yang memeluk Islam dan dilatih di Istana Sulaiman didukung Farrukh, centeng Circassia mereka. Keluarga mereka mendominasi dan melanggar Palestina hingga hampir satu abad. Ketika Putra Farrukh, Muhammad dilarang masuk Yerusalem pada 1625, dia menyerbu tembok dengan 300 tentara bayaran dan menutup gerbang, menyiksa Yahudi, Kristen dan Arab untuk mendapatkan uang.

Perlahan kekuatan Ustmaniyah menurun dan kalah oleh kemajuan teknologi militer Eropa. Hingga pada tahun 1683, sebuah pertempuran di Wina mengakhiri ekspansi mereka di Eropa. Penemuan rute-rute dagang baru membuat rute-rue ekonomi yang dikuasai Ustmaniyah sepi dan mata uang Ustmaniyah terdevaluasi tajam sejak ditemukannya perak oleh Spanyol di abad ke 16.

Orang Kristen menjadi bisnis paling subur di Palestina. Penjaga gereja mengutip bayaran untuk akses masuk bagi peziarah ditemani para penjaga bersenjatanya dan memberikan sebagian bagi penguasa Utsmaniyah dan para ulama. Yerusalem saat itu dikenal di seluruh dunia dengan semua ritual-ritualnya diselingi sesekali kerusuhan anti kristen dan serbuan Badui dan pemerasan gubernur Ustmaniyah. Bertahun tahun kemudian, persaingan dan pertikaian antara sekte Kristen mendominasi. Orang Katolik dan Protestan berebut Praedominium dengan Ortodok. Pada tahun 1699 Ustmaniyah kalah dalam perang dan menandatangani Perjanjian Kakrlowitz yang membolehkan kekuatan besar melindungi saudara-saudaranya di Yerusalem, inilah sebuah awal bencana. Dan pada tahun 1702 akibat penindasan Gubernur Palestina membuat petani – petani di Palestina memberontak.

Qadi (hakim kepala) yang didukung pasukan menyerbu penjara dan mengambil komando atas Yerusalem. Kemudian dia menunjuk Muhammad bin Mustafa Al Husseini sebagai kepala kota. Husseini adalah Klan terkemuka yang naik dari Farrukh seabad sebelumnya, dan juga Naqib Al Asyraf pemimpin keluarga yang punya garis keturunan dari Nabi SAW lewat cucunya Hussein; hanya Asyraf yang boleh mengenakan sorban hijau dan bergelar Sayyid.

Ustmaniyah kemudian mengepung Yerusalem dari luar tembok, sementara Al Hussein melindungi dari dalam. Perang selama beberapa hari tersebut banyak menghabiskan tenaga dan korban. Sehingga pada 28 November 1705, Husseini kabur dan diburu oleh orang Ustmaniyah, setelah Yerusalem di kepung oleh Ustmaniyah. Keadaan di Yerusalem berlanjut dengan pemerasan di bawah gubernur yang baru, orang Yahudi di peras dan bangkrut sampai akhirnya Husseini di tangkap dan dipenggal. Husseini digantikan Abdul Latif al Ghudayya yang keluarganya mengubah namanya dalam abad itu dan mencuri nama Husseini yang prestisius. Klan Ghudayya menjadi Husseini baru, penguasa Yerusalem yang paling kuat hingga abad ke 21.

Yerusalem pada saat itu dihantui perang susul menyusul antara garnisun Ustmaniyah yang terkenal dengan kebengisannya, gerombolan Badui penyerbu, sebagian warga  Yerusalem yang membuat rusuh dan para Gubernur yang datang memaksa memungut pajak. Orang-orang Yahudi sangat menderita tanpa dukungan Eropa dan hidup dalam kemelaratan. Sementara orang-orang Kristen saling membenci antara orang Fransiska, sekte Ortodoks, Katolik atau Armenia di bawah kontrol Ustmaniyah yang terdekap di dalam pengepungan permanen termasuk sekte-sekte yang lebih kecil Koptik, Ethiopia dan Syria.

Keruntuhan kerajaan Turki Ustmaniyah (974-1171 H/1566-1757 M) sudah mulai kelihatan sejak naiknya Sultan Selim II  (1566-1574). Tentara-tentara mereka kehilangan semangat dalam bertempur dan mengalami banyak kekalahan dalam beberapa peperangan seperti ditahun 1663 dengan Hongaria, pada tahun 1667 di Mohakez dan menandatangani perjanjian Karlowitz pada tahun 1699 yang menyatakan seluruh wilayah Hungaria, sebagian besar Slovenia dan Croasia berada di bawah penguasa Venetia.

Kekuatan Ustmaniyah runtuh di Palestina pada tahun 1730 ketika Syekh Badui, Zahir Al Umar Al Zaydani melakukan beberapa pemberontakan. Beliau bekerja sama dengan Ali bey, Jenderal Mesir yang pada tahun 1770 bersekutu untuk menguasai Palestina, menaklukan Damaskus walau Pasha Sultan masih bertahan di Yerusalem. Zahir kemudian bersekutu dengan Ratu Rusia, Catherine yang sedang berperang dengan Ustmaniyah untuk mengebom Yaffa. Penguasa Ustmaniyah saat itu, Abdul Hamid kemudian berdamai dengan Ratu Rusia pada tahun 1774 yang kemudian mengakui perlindungan Rusia atas Ortodoks, pengakuan kemerdekaan Crimenia, penyerahan banteng-benteng pertahanan di laut hitam serta memberikan izin kepada Rusia untuk melintasi selat antara laut hitam dengan laut putih dan Ustmaniyah  bisa mengambil kembali provinsi-provinsi kecilnya yang hilang. Ali bey kemudian terbunuh dan Zahir lari ke Akko.

  1. Palestina dalam masa Imperium

Terinspirasi oleh perang Salib, Napoleon Bonaparte (1799 – 1806) pada tahun 1798 dengan 335 kapal dan 350.000 pasukannya menuju Mesir. Napoleon tergugah menggabungkan monarki, agama dan sains disaat imperium besar; Prancis dan Inggris berperang. Napoleon kemudian mendarat di Mesir yang masih dikuasai oleh Mamluk Hibrida dan lalu mengalahkannya walau di wilayah lain Inggris menghancurkan armada lautnya di Teluk Aboukir. Napoleon harus merebut Syria jika ingin bertahan di Mesir. Pada tahun 1799, Napoleon kemudian menginvasi Palestina dengan 13.000 personel dan 800 onta serta berambisi menaklukan kota suci tersebut.

Napoleon dan pasukannya berperang dan membunuh warga sipil dengan kejam, bau anyir darah, mayat-mayat terpotong dan teriakan lirih kesakitan mewarnai kemenangan Napoleon di Yaffa. Dia memerintahkan membunuh sedikitnya 2.440 orang. Dia kemudian mengalahkan Sang Jagal, Ahmed Jazzar, Pasha (penguasa) di Akko yang terkenal dengan kekejamannya menghilangkan anggota tubuh orang dengan pasukan kecil Ustmaniyahnya yang berkuasa sampai di Ramalah, 25 mil dari Yerusalem. Bonaparte kemudian mengeluarkan proklamasi untuk Yahudi, Pro Zionis dan menyatakan Yerusalem adalah Markas besarnya walaupun Akko belum sepenuhnya dia kuasai.

Sang Jagal, Ahmed Jazzar kemudian bekerja sama dengan salah satu Jenderal Inggris Sidney Smith dan dibantu Pasukan Ustmaniyah  berhasil menghalau Bonaparte mundur kembali ke Mesir setelah 1.200 tentaranya tewas dan 2.300 terluka yang kemudian atas perintah Bonaparte di bunuh oleh seorang dokter Turki. Bonaparte kemudian berlayar pulang meninggalkan pasukannya di Mesir dengan Jenderal Kle’ber dan mendapat kehormatan besar di Prancis, sebagai Jenderal Penakluk.

Takut akan pembalasan orang Muslim terhadap Kristen, Smith dan pasukannya dengan ijin Sang Jagal dan Sultan kemudian menuju Yerusalem dari Yaffa untuk melindungi warga Yerusalem dari Prancis yang kejam. Smith sempat berdoa di makam suci, mereka adalah tentara Frank pertama yang memasuki Yerusalem sejak tahun 1244. Sultan Selim III memberikan sang jagal Ahmed Jazzar penghargaan untuk menjadi Pasha di Mesir, Damaskus dan Bosnia daerah asalnya. Jazzar kembali menguasai Yerusalem dan Palestina setelah berperang dengan Pasha Gaza dan wafat pada tahun 1804.

Sementara itu, Putri Caroline dari Inggris terinspirasi cerita dari Smith kemudian datang dan mengunjungi Yerusalem pada 9 Agustus 1814 untuk berziarah. Dia adalah putri Kristen pertama yang mengunjungi Yerusalem dalam enam abad dan kembali pada 17 Juli 1815 tiga pekan setelah kekalahan Napoleon di Waterloo.

Palestina kemudian dikuasai oleh Abdullah Pasha orang kuat Palestina cucu sang Jagal yang menyerang Yerusalem ketika Damaskus menaikan pajak dan memicu kerusuhan. Dia menggantung pemberontak yang dipenggal kepalanya di luar gerbang Yaffa. Pembunuhan Mustafa, Pasha Ustmaniyah pada tahun 1824 menimbulkan pemberontakan kaum petani yang kemudian menguasai selama beberapa bulan lamanya. Abdullah kemudian membombardir mereka dari bukit Zaitun yang menyebabkan pada tahun 1824 Yerusalem menjadi kota yang hancur, hina dan terpencil.

Tahunn 1830 – 1840, wilayah Palestina di kuasai oleh Albania, yaitu ketika Mehmet Ali, seorang tentara Albania menciptakan sebuah dinasti baru dan menguasai Mesir. Beliau lahir di Albania wilayah Yunani pada tahun yang sama dengan Bonaparte dan mendapat gelar Bonaparte dari Timur serta mendominasi wilayah timur selama 15 tahun dan hampir menaklukan seluruh imperium Ustmaniyah pada masa itu. Mehmet Ali datang menyerbu tentara Bonaparte di Mesir atas nama Ustmaniyah dan kemudian mengambil alih kekuasaan di Mesir.

Sementara itu, Sultan Ustmaniyah, Mahmoud II yang sedang kesal atas kemenangan Wahabi, sebuah klan di Saudi dalam merebut Mekkah meminta bantuan Mehmet Ali dan orang Albania untuk merebut kembali Mekkah dan mengirimkan Abdullah Al Saud ke Istanbul. Ketika orang Yunani pada tahun 1824 memberontak, Mehmet Ali secara bengis meredam dan menghancurkannya yang membuat kekuatan di Eropa menjadi cemas. Pada tahun 1827 Inggris, Prancis dan Rusia kemudian menghancurkan armada Mehmet Ali di pertempuran Navarino dan mensponsori kemerdekaan Yunani.

Mehmet Ali kemudian menaklukan wilayah yang kini menjadi negara Israel, Syria dan sebagian besar Turki pada tahun 1831 dengan mengalahkan setiap angkatan perang yang dikirim oleh Sultan  dan bergerak menuju Istanbul. Akhirnya Sultan mengakui kekuasaan Mehmet Ali atas Mesir, Arabia dan Crete.  Mehmet Ali mengandalkan kekuatan  Ibrahim, putranya sebagai Gubernur Syria untuk memporakporandakan Saudia, Yunani serta merebut Yerusalem dan Damaskus.

Pada tahun 1834 Ibrahim kemudian membangun markas besar di kawasan Istana Makam Dawud dan duduk diatas singgasana untuk mereformasi Yerusalem. Melonggarkan represi terhadap Kristen dan Yahudi serta menjadikan keterbukaan bagi mereka dengan menghilangkan biaya-biaya para peziarah ke tanah suci. Pada sebuah acara Paskah Ortodok tanggal 3 Mei di gereja makam suci yang dipimpin oleh orang Albania berakhir rusuh akibat kebakaran api suci. Lebih dari 400 peziarah binasa dan ribuan terluka saat 17.000 peziarah Kristen rusuh dan berdesak-desakan saat Api keajaiban, Api suci dinyalakan. Ibrahim sendiri yang saat itu berada di dalam gereja Makam suci hampir ikut menjadi korban jika pengawal-pengawalnya membabat dan menebas orang-orang untuk mengeluarkannya dari tempat sesak itu.  Kejadian ini mengguncang orang-orang Kristen dan memicu keluarga-keluarga Yerusalem, Nablum dan Hebron melakukan pemberontakan. Sekitar 20.000 petani-petani dibawah pimpinan keluarga Husseini dan Khalidi menjarah dan mengacau di jalan – jalan Yerusalem dan mengepung Menara. Ibrahim kemudian mundur ke Yaffa dan meminta bantuan ayahnya Mehmet Ali yang kemudian mengirimkan 15.000 pasukan menumpas pemberontak.

Pada  tahun 1839, Ibrahim yang dibantu oleh Raja Prancis  Louis Philippe berupaya merebut Istanbul. Akan tetapi Inggris khawatir akan pengaruh Prancis dan Rusia jika Istanbul jatuh. Sementara itu Sultan Abdulmecid juga berupaya mendapat dukungan dari Barat untuk mempertahankan kekuasaannya. Ibrahim kemudian mengundang orang-orang Eropa untuk mendirikan konsulat di Yerusalem dan memperbolehkann membunyikan lonceng Gereja kembali sejak dilarang usai perang Salib ratusan tahun lalu. Konsul Inggris pertama William Turner Young pada tahun 1839 datang ke Yerusalem yang juga untuk mengkristenkan orang Yahudi.

Di lain pihak, menteri luar negeri Inggris Lord Palmerston berambisi untuk mengkristenkan Yahudi di Yerusalem dimana pada saat itu Prancis telah terlebih dahulu memberikan perlindungan kepada Katolik, Rusia melindungi orang-orang Ortodoks sementara Protestan tidak banyak disana. Palemrston memerintahkan konsulnya di Yerusalem, Young untuk menyampaikan kepada Sultan bahwa mereka harus menjunjung tinggi dan memberikan dorongan kepada Yahudi Eropa untuk kembali ke Palestina. Young kemudian membuka cabang Jewish Society dari London di Yerusalem pada tahun 1839. Disaat bersamaan seorang Yahudi kaya yang sudah mengumpulkan banyak sumbangan Montefiore kembali ke Yerusalem untuk membagikan sedekah bagi warga Yahudi di Yerusalem. Yerusalem waktu itu masih di kuasai oleh Ibrahim dengan dukungan kekuasaan Inggris pada saat Sultan masuk lagi ke sini pada 20 Oktober 1840 dimana sepertiga wilayah Yerusalem sudah menjadi semak belukar tetapi populasi Yahudi meningkat drastis karena imigrant Yahudi dari Rusia berdatangan.

Pada tahun 1841 Russia dan Inggris menunjuk Uskup Protestan pertama Michael Solomon Alexander, seorang Yahudi yang menjadi Kristen. Yahudi – Yahudi yang hidup dalam kemelaratan, sakit-sakitan hanya punya akses terhadap Jewish Society London dan banyak yang akhirnya pindah ke Kristen. Yerusalem akhirnya bersinar kembali dengan Prancis dan Rusia mensponsori pengemballian Patriark Latin dan Ortodoks ke Yerusalem. Konsul-Konsul dari negara-negara Eropa ini kemudian menjadi angkuh dan sombong. Pada tahun 1845 konsul Inggris Young di gantikan oleh James Finn yang terus-terus mengkristenkan Yahudi dan kemudian membeli tanah- tanah di Yerusalem untuk memikat orang-orang Yahudi. Pada tahun 1844 konsul Amerika Warder Cresson juga tiba di Yerusalem dan membawa banyak peziarah Amerika ke Yerusalem serta mengeluarkan visa bagi Yahudi. Cresson kemudian di pecat dan pindah ke agama Yahudi.

Dimasa ini Yerusalem manjadi tempat para Peziarah dari seluruh dunia datang terutama para ziarah Kristen dari Eropa yang datang berduyun duyun pada perayaan Paskah setiap tahunnya termasuk yang terbesar dari Rusia (Ortodoks). Ketika Konstantinopel ditaklukan Al Fatih pada tahun 1453, Para pangeran Muscovy  menganggap sebagai pewaris kaisar terakhir Byzantium, Moskow sebagai Roma ketiga dan mempunyai gelar baru Tsar dan dalam perlawanan mereka pada kaum khan Islam Crimea, mereka menyebut perang Salib Ortodoks yang sakral di bawah Kaisar Tsar Nicolas I. Kaisar juga mengirim Pangeran dan Jenderal ke Yerusalem bersama para peziarah.

Pada waktu itu walau banyak di kunjungi peziarah dari seluruh dunia, tidak ada tempat penginapan di Yerusalem begitu juga Bank. Peziarah – peziarah tersebut tinggal di Monasteri-monasteri sampai hotel pertama, Kaminitz di dirikan tahun 1843 oleh seorang Yahudi Rusia Menachem Mendel diikuti oleh English Hotel. Dan pada tahun 1848 Bank pertama di dirikan di Yerusalem oleh keluarga Sephard Valero.

Ketika bintang perak sumbangan Prancis di atas lantai marmer Grotto Gereja kelahiran Bethlehem dicopot dan dicuri pada tahun 1847, para pendeta berkelahi. Prancis mengklaim mereka yang berhak menggantikannya tetapi Rusia juga mengklaim yang sama, keadaan memanas sampai duel dua kaisar. Sampai akhirnya Sultan mengeluarkan dekrit pada tahun 1852 yang menegaskan kewenangan Ortodoks di Gereja dengan sejumlah konsesi kepada Katolik. Raja Prancis tidak terima dengan keputusan tersebut dan menginvasi Ustmaniyah. Sultan Ustmaniyah kemudia takluk kepada Prancis pada November 1852 dan memberikan kewenangan kepada Katolik. Rusia yang marah kemudian menginvasi territoti Ustmaniyah di Danube (Rumania sekarang) menuju ke Istanbul. Prancis dan Inggris yang merasa terancam dengan invasi Rusia ke terhadap Ustmaniyah dan Yerusalem akhirnya mendeklarasikan perang pada 28 Maret 1853. Walau perang terjadi di Crimea jauh dari Yerusalem tapi Yerusalem adalah poros dunia dari perang tersebut dan hal itu terjadi sampai saat ini. Setelah pasukannya kalah berkali-kali di Crimea, Kaisar Russia, Nicholas jatuh sakit dan wafat pada 18 Februari 1855 dan digantikan oleh Alexander II yang mengajukan perdamaian serta melepas ambisinya di Yerusalem tapi  beliau mendapatkan restorasi hak Ortodoks di Makam Suci, status quo yang masih berlaku hingga kini. Perjanjian perdamaian di tanda tangani pada 14 April 1856 tapi 12 hari kemudian peziarah Yunani menyerang orang-orang Armenia, kekacauan terjadi lagi di Yerusalem sebelum Alexander II membasminya.

Kemenangan itu buat Ustmaniyah menjadi sebuah dilema, kelemahan dunia Islam di selamatkan oleh tentara Kristen dan untuk menunjukan rasa terima kasihnya Sultan Abdul Mecit mengambil langkah Tanzimat – Reformasi – yang menyentralisasi pemerintahan dan memberikan persamaan bagi semua minoritas apapun agamanya dan membolehkan semua bentuk kebebasan ala Eropa. Beliau menghadiahkan St Anne, gereja tentara Salib yang sudah jadi Madrasah Saladin kepada Napoleon III. Setelah itu para penguasa Eropa berdatangan ke Yerusalem dan membangun bangunan kristen bergaya imperial disana.

Kota Arab – kota imperial 1870-1880, Sultan sang Khalifah memimpin sebuah imperium Sunni, Muslim berada pada posisi puncak, Turki berkuasa. Yerusalem sesungguhnya dalam keseharian adalah berbauran dari Perwira Ustmaniyah yang berjaket bordir berbahasa Arab dan Turki, Yahudi Ustmaniyah, Armenia dan Kristen Arab serta Muslim yang berjubah longgar atau berstelan warna putih dengan tutup kepala Tarbush. Mereka hidup berdampingan tapi ironisnya Kristen Ortodoks Arab yang paling memusuhi Yahudi. Mereka hidup dalam ritme dan nafas keseharian ditemani dzikir, musik dan tari-tarian.

Yerusalem di pimpin oleh Walikota Pertama Yusuf al Diya Al Khalidi dari keluarga Dajani pada 1867 dan sejak itu jabatan Walikota selalu dipegang oleh klan keluarga bergantian.  Sementara itu Ustmaniyah dipimpin oleh Sultan Baru Abdul Hamid II yang dibawah tekanan Rusia menerima konstitusi dan pemilihan parlemen Yerusalem yang hanya pura-pura dan kemudian membatalkannya. Nasionalisme baru Ustmaniyah kemudian digabungkan dengan loyalitas keislaman di kekhalifahan. Pada tahun 1882 Inggris menguasai Mesir dan pada tahun 1892, jalur kereta api akhirnya mencapai Yerusalem yang menjadikannya kota Pariwisata dunia. Sultan Abdul Hamid II menambahkan beberapa air mancur baru dan menara lonceng di Gerbang Yaffa. Sementara orang – orang Yahudi, Arab, Yunani dan Jerman mengkolonisasi kota baru di luar tembok dan mendirikan perkampungan tujuh di luar gerbang Yaffa. Kemudian pada tahun 1880, terdapat 17.000 Yahudi yang menjadi mayoritas disana. Sementara itu keluarga – keluarga Arab juga membangun perkampungan Husseini dan Nashahibi di utara gerbang Damaskus.

Ketika kaisar Rusia Alexander II terbunuh oleh bom di tahun 1881, penggantinya Alexander III memandang Yahudi sebagai kanker sosial dan menjadikan anti semit (Anti semitisme adalah suatu sikap permusuhan terhadap kaum Yahudi dalam bentuk penganiayaan/penyikssaan terhadap agama, etnik maupun kelompok, ras, mulai dari kebencian terhadap individu maupun lembaga) kebijakan negara. Pada tahun 1891 beliau menunjuk Sergei sebagai Gubernur Jenderal di Moskow yang kemudian mengusir 20.000 orang Yahudi dari Moskow yang kemudian memicu eksodus Yahudi besar-besaran . Dua juta orang Yahudi meninggalkan Rusia dari tahun 1888 – 1914 dan tidak semua sampai di Yerusalem tapi menuju Amerika. Pada tahun 1890 dari 40.000 warga Yerusalem, 25.000 adalah Yahudi, sehingga Sultan melarang migrasi orang Yahudi pada tahun 1889 tetapi hal tersebut tidak efektif karena Yahudi-Yahudi tersebut tetap berdatangan ke Yerusalem.

  1. Palestina dalam Periode Zionisme

Meningkatnya anti semit di Eropa menimbulkan kekhawatiran orang Yahudi yang tidak pernah aman jika tidak mempunyai tanah air sendiri. Sejak awal keberadaan mereka exodus dari Mesir, dibawah kekuasaan nabi Dawud As hingga di usir dan asingkan oleh Babilonia. Oang-orang Yahudi selalu berdoa agar dapat kembali ke Yerusalem, berdoa dan meninggal disana, dikuburkan dekat-dekat dengan Kuil Suci dimana dalam kepercayaan mereka di akhir zaman nanti Messiah akan diturunkan disana.

Para pionir gerakan zionis (zionis adalah bangkitnya orang Yahudi yang terpencar-pencar di seluruh dunia untuk menyatu kembali ke dalam satu bangsa dan hidup di tanah air Yahudi di Palestina/ Yerusalem ) adalah seorang Rabi Orthodok dan seorang rabi Ashkenazi Zvi Hirsch Kalischer di Russia pada tahun 1836 yang membujuk keluarga Rotchild dan Montefiore untuk mendanai sebuah negara Yahudi. Kemudian Rabi Yehuda Hai Alchelai seorang rabi di Sephard Sarajevo menyarankan orang Yahudi memilih pemimpin dan membeli tanah di Palestina. Kemudian pada tahun 1878 Yahudi Palestina mendirikan gerbang harapan di pesisir dan di saat bersamaan keluarga Rotschild mulai mendanai desa-desa pertanian untuk para imigran Yahudi dari Rusia dan mereka mencoba membeli Tembok Yerusalem. Pada tahun 1887, sang mufti saat itu Mustafa al Husseini menyetujui satu transaksi tapi kemudian gagal. Ketika mereka mencoba lagi pada tahun 1897, Syekh dari klan Husseini, Al Haram  mengganjalnya,  sementara itu  imigran Yahudi terus berdatangan.

Pada bulan agustus 1897, Theodore Herzl, kritikus sastra di Wina memimpin Kongres Zionis pertama di Basel dan sesumbar untuk mendirikan negara Yahudi. Herzl kemudian mencari dukungan dari berbagai negara dan memutuskan bahwa negara Yahudinya tersebut harus berbahasa Jerman dengan model Monarki Modern saat dia bertemu Kanselir Jerman dan mempengaruhinya untuk memperluas kekuasaan Jerman. Mereka kemudian mengajukan rencana zionis dengan Sultan Utsmaniyah yang kemudian di tolak. Sultan menepis klaim Yahudi atas bukit Zion dan pengembalian Yahudi yang akan berbenturan dengan keberadaan kuno dan sah orang-orang Arab disana. Menurut Sultan

 “Palestina adalah bagian integral dari Imperium Ustmaniyah dan yang lebih serius dihuni oleh masyarakat lain selain Israel”.

Pada bulan April 1903, terjadi pembantaian dan terror anti semit di seluruh Rusia yang membuat Herzl panik dan mengusulkan tanah air baru Yahudi di Siprus atau di Al Arish di Sinai, bagian Mesir yang dekat dengan Palestina tetapi ditolak pemerintah Inggris. Inggris kemudian mengusulkan Uganda atau Kenya sebagai tanah air Yahudi yang di terima sementara oleh Herlz. Pemilihan Uganda hanya membawa perpecahan dalam kongres ke enam Zionis. Ada 34 rencana yang berbeda di lokasi yang berbeda-beda pula muncul dan berkembang saat itu mulai dari Angola, Alaska, Libya, Irak dan Amerika Latin.

Sementara itu traktat anti semit Palsu “The Protocol of the Elders of Zion” yang dibuat atas perintah petinggi polisi rahasia Tsar, direktur Okhrana di Paris, Rachkovsky pada tahun 1903 yang merupakan rencana iblis bahwa semua orang Yahudi akan menyusup ke pemerintah, gereja-gereja, media, dewan perang dan revolusi untuk menciptakan  sebuah imperium dunia yang dikuasai oleh otokrat Daudis memicu revolusi yang membuat Tsar Nicholas II hampir kehilangan singgasananya pada 1905.

Kemudian, para pekerja Zion menaiki kapal ziarah dari Odessa menuju Tanah suci. David Grun salah satu anggota partai sosialis Poalei Zion ikut didalamnya. Mereka lalu pada tahun 1909 mendirikan Tel Aviv di bukit pasir disamping pelabuhan Yaffa kuno. Grun, kemudian pada tahun 1910 pindah ke Yerusalem dan menjadi penulis di surat kabar Zionis dengan nama samaran Ben-Gurion. Dia percaya bahwa sebuah negara Yahudi sosialis akan diciptakan tanpa kekerasan tanpa mengusir Arab Palestina tapi Yahudi akan hidup berdampingan dan bersama-sama mendapatkan keuntungan secara ekonomi. Lagipun wilayah – wilayah Ustmaniyah seperti Sidon, Damaskus dan Sanjak Yerusalem (demikian Palestina di kenal masa itu) adalah daerah yang terbelakang, miskin dan kumuh.

Pada tahun 1908, Yerusalem merayakan Revolusi Turki Muda yang menggulingkan Tirani Abdul Hamid dan pasukan Rahasianya. Para Turki Muda – komite persatuan dan kemajuan memulihkan Konstitusi di tahun 1876 dan mengadakan pemilihan anggota parlemen. Orang-orang Arab percaya bahwa mereka akan bebas dari Ustmaniyah dan memproklamirkan kerajaan yang pusat di Arabia atau Syria Raya. Yerusalem kemudian memilih Utsman Al Husseini dan keponakan Yusuf Khalidi, Ruhi seorang penulis, politikus dan orang pintar duduk di parlemen. Di Istanbul Ruhi Khalidi menjadi wakil ketua parlemen yang menentang Zionisme dan pembelian Tanah oleh Yahudi.  

Yerusalem pada waktu itu menjadi sebuah magnet baru yang menarik begitu banyak peziarah dari berbagai belahan dunia yang membawa uang yang banyak dan menimbulkan gaya hedonism baru, mabuk-mabukan hingga pelacuran disetiap sudutnya. Orang-orang Yahudi, Armenia atau Yunani berbaur dengan pendatang dari Rusia yang kaya raya. Disamping itu Yerusalem juga menarik banyak para arkeolog yang datang untuk menemukan peninggalan kuno, situs Raja Dawud dan Talbut Suci sejak tahun 1867. Akan tetapi penggalian seorang Inggris bernama Parker di tahun 1909 di daerah Bukit Suci dan batu Shakrah menimbulkan kerusuhan orang-orang Muslim dan Yahudi setelah beredar isu bahwa Parker membawa mahkota Sulaiman, tabut suci dan pedang nabi Muhammad Saw yang saat itu menimbulkan pembantaian terhadap orang-orang Kristen.

Pada tanggal 28 Juni 1914 perang dunia I meletus yang di picu para teroris Serbia yang membunuh putra Mahkota Austria Pangeran Franz Ferdinand. Dan pada 11 November 1914 Sultan Mehmet V Rasyid mendeklarasikan perang terhadap Inggris, Prancis dan Rusia. Di Yerusalem, jihad di proklamasikan di Al Aqsha. Ahmet Jemal sebagai komandan tertinggi pasukan Ustmaniyah kemudian memasuki Yerusalem dan mendirikan markas di atas bukit Zaitun. Orang-orang Arab yang merupakan 40 persen populasi Ustmaniyah sebenarnya membenci Jemal yang berambisi menguasai provinsi-provinsi Arab dan zionis. Dia kemudian menurunkan 20.000 orangnya untuk menyerang Mesir dan mengusir orang-orang Kristen. Jemal menggantung musuh-musuh atau orang-orang yang dia anggap membahayakan dirinya dan kekuasannya di Gerbang Damaskus dan Yaffa tanpa belas kasihan.

Ben Gurion yang saat itu merekrut tentara-tentara Yahudi dari Ustmaniyah disponsori oleh Jemal untuk bertemu keluarga Husseini untuk menggalang dukungan satu tanah air bersama di bawah Ustmaniyah. Tapi kemudian Jemal mendeportasi 500 orang Yahudi asing termasuk Ben Gurion yang memancing kehebohan koran Jerman dan Austria. Orang-orang Arab kemudian dipaksa masuk militer, orang Yahudi dan Kristen masuk batalion buruh untuk membangun jalan.

Pemberontakan Arab dan Deklarasi Balfour (1916-1917)

Pada 5 Juni 1916 Syarif Hussein, Amir di Mekkah, memimpin pemberontakan Arab kepada Sultan Ustmaniyah didukung oleh Inggris yang kemudian menuntut imperium atas seluruh Arabia, Syria, Palestina dan Irak. Dia mendeklarasikan dirinya Raja Seluruh Arab. Pemberontakan gagal dan dapat di atasi oleh Turki. Salah satu putra Hussein Pangeran Faisal di bimbing oleh perwira Inggris Lawrence untuk membawa pasukannya memutar 300 mil melalui gurun Yordania yang ganas untuk merebut pelabuhan Aqaba. Sir Edmund Allenby, komandan Inggris yang baru tiba di Kairo seminggu sebelum Faisal dan Lawrence merebut Aqaba. Sementara di Yerusalem pesawat-pesawat Inggris mengebom Bukit Zaitun. Orang-orang Jerman yang semula meremehkan Allenby terkejut ketika pada 31 Oktober 1917 Allenby melancarkan serangan Ofensif untuk merebut Yerusalem. Ketika Allenby dan 75.000 infateri dan 17.000 kavaleri serta tank-tank barunya menyerang Yerusalem, Arthur Balfour, Menteri Luar negeri Inggris sedang bernegosiasi sebuah kebijakan baru dengan ilmuwan Rusia Dr. Chaim Weizmann Yahudi si ahli kimia.

Pada musim semi tahun 1917 Amerika memasuki perang dan revolusi Rusia menggulingkan Nicholas II. Ide zionisme yang berawal dari Jerman-Austria didukung oleh sebagian besar Yahudi di Rusia dan Amerika dipertimbangkan oleh Inggris. Ketika Jemal Pasha (penguasa) Yerusalem bertemu Jerman dan dia keberatan mendorong terjadinya “Tanah Air nasional Yahudi” tersebut sementara Balfaour dan Lloyd George terus mengadakan negosiasi. Pada tanggal 9 November 1917 Balfour mengeluarkan Deklarasinya kepada Lord Rothschild yang berbunyi “  Yang Mulia pemerintah memiliki pandangan mendukung pendirian di Palestina satu tanah air nasional bagi masyarakat Yahudi.” .

Pihak Arab kemudian menuduh Inggris berbuat licik karena secara bersamaan menjanjikan Palestina kepada Syarif, Zionis dan Prancis yang kemudian memicu Pemberontakan Arab Raya. Chaim Weizmann, seorang pemimpin Zionist malah mengusulkan agar tempat suci itu di internationalkan. Pada saat Allenby memasuki Palestina, Lloyd George Perdana Mentri Inggris meminta Yerusalem sebagai hadiah Natal untuk bangsa Inggris. Allenby kemudian merebut Gaza pada tanggal 7 November 1917 dan Yaffa tanggal 1 November 1917. Jemal Pasha dari Damaskus memerintahkan untuk mendeportasikan semua Yahudi dan pendeta Kristen serta mengeluarkan demam anti semit di Yerusalem yang membuat takut orang-orang Jerman yang waktu itu menguasai Yerusalem. Sementara itu pasukan Inggris memborbardir markas besar Jerman di Yerusalem dan pasukan Ustmaniyah juga ikut membalas. Perempuran 4 hari tersebut membuat warga mengungsi keluar kota. Jerman akhirnya mundur dari Yerusalem pada jam 3  pagi tanggal 9 Desember 1917 dan jam 7 pagi orang Turki terakhir meninggalkan gerbang St. Stephen. Pukul 08.45 pagi tentara Inggris mendekati gerbang zion dan walikota Husseini mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah.

Allenby kemudian memproklamirkan Yerusalem dalam bahasa Prancis, Arab, Ibrani, Yunani, Rusia dan Italia. Walikota Husseini menyerahkan kunci-kunci kota kepada Allenby walaupun Gereja Makam suci tetap di buka dan ditutup oleh Nusseibeh secara turun temurun. Keadaan ini tidak merubah Yerusalem yang tetap di penuhi dengan kemelaratan masyarakatnya, akibat kelaparan, malaria dan penyakit kelamin. Saat itu dimana masyarakat Arab dan Yahudi berdebat apakah membangun koloni –koloni Yahudi yang terintegrasi atau Palestina menjadi bagian Syria atau Mesir. Walaupun Yerusalem tenang selama dua tahun tetapi orang-orang disana berselisih tentang situs-situs keagamaan mereka.

Ketika Walikota Yerusalem Husseini wafat, dan Inggris menunjuk Musa Kazem al Husseini sebagai penggantinya. Di lain pihak masyarakat Arab Yerusalem mulai menaruh harapan kepada Pangeran Faisal yang menguasai Kerajaan Syria raya. Sementara Weizmann meyakinkan Mufti agung bahwa Yahudi tidak akan mengancam kepentingan Arab dan akan mengembangkan sebuah negara dibawah proteksi Inggris. Pangeran Faisal, Lawrence dan Weizmann kemudian bertemu dan menyepakati akan klaim-klaim Yahudi di masa mendatang di wilayah Palestina dan pangeran Faisal menyetujui keberadaan mayoritas Yahudi di Palestina asalkan mahkota Syria menjadi miliknya.

Sementara itu Ustmaniyah masih terus berperang di Palestina dengan kekuatan besarnya. Pada September 1918 Allenby mengalahkan pasukan Ustmaniyah di perang Megiddo dan pada tanggal 2 Oktober 1918, Pangeran Faisal dan Lawrence membebaskan Damaskus. Tanggal 8 Maret 1920, Pangeran Faisal di proklamasikan sebagai Raja Syria (termasuk Lebanon dan Palestina) dan menunjuk Said Al Husseini dari Yerusalem sebagai mentri luar negerinya. Sementara di London Perdana Mentri Inggris Lloyd George, Perdana Mentri Prancis Clemencau dan President pertama Amerika Serikat Woodrow Wilson bertemu dan membicarakan tentang pembagian wilayah di Timur Tengah ini tanpa mencapai titik kesepakatan.

Kerusuhan besar untuk memprotes Deklarasi Balfour oleh orang Arab terjadi pada 20 April 1920 yang menuntut Palestina sebagai tanah mereka dan keinginan mengusir Yahudi yang kemudian mulai membangkitkan perselisihan tentang kepemilikan Yerusalem. Weizmann dan Ben Gurion yang mempunyai cita-cita tanah air menolak mengakui Nasionalisme Arab sementara orang Arab juga menginginkan negara ini milik mereka. Raja Faisal yang diharapkan Nasionalis Arab di usir paksa oleh Prancis dan menghancurkan angkatan perangnya. Akhir dari Syria Raya dan kerusuhan yang membantu membentuk identittas Nasional Palestina. Perdana Mentri Inggris Lloyd George berdasarkan Deklarasi Balfour dalam konferensi di San Romeo menerima mandat untuk memerintah Palestina pada 24 April 1920 dan menunjuk Sir Hebert Samuel sebagai komisaris tinggi pertama. Samuel kemudian memperbolehkan orang Yahudi datang ke Palestina hingga mencapai 70.000 orang dalam delapan tahun.

Pada tanggal 12 Maret 1920, Winston Chuschill mengumpulkan para pakar Arab di Yerusalem. Di saat yang bersamaan, Syarif tua Raja Husein dari Hijaz dan putranya Abdullah menghalau pasukan Saudi yang dipimpin oleh Ibnu Saud. Mereka merencanakan Raja Faisal akan menguasai Syria-Palestina dan Abdulllah menjadi Raja Irak. Churchill juga membuat konferensi di Kairo untuk menyerahkan sejumlah kekuasaan dibawah pengaruh Inggris. Abdullah  yang berharap satu imperium Hasyimi menganggap cara terbaik bagi Yahudi dan Arab adalah hidup bersama dibawah kekuasaannya dan kerajaan Syria. Churchill sendiri menawarkan Trasnyordan asalkan dia mengakui Syria Prancis dan Palestina Inggris. Churchill menegaskan bahwa Yahudi harus memiliki Tanah Air Nasional. Raja Husein yang semakin uzur dikalahkan oleh Ibnu Saud dan digantikan oleh putra tertuanya Raja Ali. Tetapi orang-orang Saudi kemudian menaklukan Mekkah, Ali diturunkan dan Ibnu Saud mendeklarasikan diri menjadi Raja Hijaz, kemudian Saudi Arabia.

Imigrasi Yahudi dan pembelian tanah – tanah telah mencemaskan Arab. Sejak Deklarasi Balfour sekitar 90.000 Yahudi tiba di Palestina dan sudah membeli 44.000 hektar tanah pada tahun 1925. Mufti (penguasa kota) Yerusalem sendiri diminta menjual tembok kepada orang Yahudi agar Yahudi bisa membangun satu halaman disana, tapi Mufti menolaknya. Yahudi mengangap tembok adalah simbol kebebasan beribadah sedang bagi Arab, Bouraq menjadi simbol perlawanan dan kebangsaan.

Pada musim panas tahun 1929 orang Yahudi berdomenstrasi dengan slogan “Tembok milik kita “ dipimpin Joseph Klausner dikawal tentara Inggris dan mengibarkan bendera Zionis dan esoknya selesai sholat jumat, 2000 orang Arab keluar dan bentrok dengan demonstran Yahudi. Tentara Inggris dari Kairo di datangkan untuk menghalau kekacauan dan banyak menembak mati orang - orang Arab. Kekacauan “Thawrat al Bouraq” (Pergolakan Bouraq) ini mempermalukan Inggris dan membuat kebijakan Balfour berantakan. Kalangan zionis kemudian putus asa dan mendiskreditkan Weizmann. Zionis tidak mau lagi tergantung pada Inggris. Weizmann kemudian disingkirkan dari jabatan presiden Zionis dan digantikan oleh David Ben – Gurion yang menjadi orang kuat dari Komunitas Yahudi sementara Mufti menjadi orang kuat di kalangan Arab.

Tahun 1931, Mufti Yerusalem menjadi pemimpin Pan –Islam dan Nasional di Konferensi dunia Islam di Bukit kuil dan menentang koloni Zionis di Palestina. Di tahun 1933, Musa Kaazem Husseini bekas walikota Yerusalem memimpin demonstrasi yang memicu kerusuhan. Mufti kemudian secara diam-diam mengunjungi konsul Jerman di Yerusalem, Heinrich Wolff. Pada saat itu Jerman menunjuk Hitler menjadi kanselir tanggal 30 Januari 1933 untuk mendukung rezim baru dan penyebaran kepemimpinan antidemokrasi fasis. Begitu Anti – semitisme NAZI mengancam Eropa, ada sekitar 100.000 Yahudi bermigrasi ke Yerusalem di tahun 1936 berbanding dengan hanya 60.000 orang Arab dan Kristen. Dan pada November 1935 Syekh Izzudin Al Qassam, pengkotbah Syria memberontak melawan Inggris. Ketegangan lalu meningkat di Palestina, Sir Arthur Wauchope waktu itu memimpin Yerusalem. Sementara itu lebih dari seperempat juta Yahudi tiba di Palestina pada dekade Mandat Kedua.

Di tahun 1936 Mufti kembali memimpin perlawanan melawan Inggris dan Yahudi serta pada Oktober 1936 menuntut kemerdekaan untuk masyarakat Palestina, membatalkan deklarasi Balfour dan menyingkirkan Yahudi dari Palestina. Earl Peel pada tanggal 7 Juli 1937 kemudian  diutus oleh pemerintah Inggris untuk mengusulkan dua negara, Palestina menjadi sebuah Area Arab (70% dari negara) bergabung Transyordan Abdullah dan satu area Yahudi (20%) dan menyarankan pemindahan populasi 300.000 orang Arab di area Yahudi. Sementara itu Yerusalem tetap menjadi entitas khusus di bawah kontrol Inggris. Akan tetapi Mufti Yerusalem tetap menolak dan memimpin pemberontakan hingga dikejar oleh tentara Inggris dan lari ke Libanon. Sementara itu di Yerusalem pemberontakan dipimpin oleh putra Musa Kazem Husseini, Abdul Kadir Husseini. Inggris berusah keras menguasai Palestina, sementara pasukan Nasionalis Zionis mulai menyerang Arab. Pada saat bersamaan di di Eropa, Hitler merajalela dan Inggris membutuhkan lebih banyak bantuan Yahudi. Mereka kemudian melatih 25.000 tentara Yahudi dipimpin Yitzhak yang menjadi angkatan bersenjata pertama Yahudi.

Pada September 1938, pada perjanjian Munich Perdana Mentri Inggris Neville Chamberlain yang meredakan agresi Hitler dan membebaskan tentara Inggris diikuti oleh 25.000 bala bantuan tiba di Palestina. Tapi pemberontak secara berani menyerang dan merebut kota tua pada 17 oktober dan mengusir tentara Inggris. Bendera Arab berkibar di atas menara Dawud. Tapi pada tanggal 19 Oktober Tentara Inggris menyerbu gerbang dan merebut kembali kota tua.  Komandan Divisi Wingate Mayor Jenderal Benard Montgomery kemudian mendeklarasikan bahwa pemberontakan akhirnya di tumpas. Korban berjatuhan dari pihak Arab. Sepersepuluh dari laki-laki usia 20 – 60 tahun meninggal atau terluka, sekitar 50.000 orand ditangkap.

Chamberlain kemudian mengundang pihak Arab dan Yahudi ke London untuk bernegosiasi. Arab menunjuk Mufti yang karena di tolak oleh pemerintah Inggris mewakilkan kepada sepupunya Jamal Al Husseini sebagai ketua delegasi Arab; Nashashibi. Beliau mewakili delegasi moderat Arab, Weizmann dan Ben Gurion mewakili Zionis dan bertemu pada tanggal 7 Oktober 1939. Chamberlain berharap bisa membujuk Zionis untuk menyetujui penghentian migrasi tersebut akan tapi tidak berhasil. Pada 17 Maret Malcomm McDonald mengeluarkan  buku putih  yang mengusulkan pembelian terbatas tanah oleh Yahudi dan membatasi 15.000 orang migrasi pertahun selama lima tahun dan sesudah itu Arab akan memiliki hak veto, kemerdekaan Palestina dalam sepuluh tahun dan tidak ada negara Yahudi. Tetapi Mufti menolaknya dari Lebanon.

Ben Gurion menyiapkan milisi Haganah untuk perang melawan Inggris. Yahudi kemudian membuat rusuh di Yerusalem dengan mengebom pasar di luar gerbang Yaffa dan membunuh orang-orang Arab. Mufti yang bertemu Hitler melihat bahwa mereka punya musuh bersama yang harus di hancurkan yaitu Inggris dan Yahudi. Pada saat itu Prancis sudah runtuh dan Wehmacht, pasukan Jerman maju menuju Rusia. Sementara di Jerman, Hitler sudah mulai membunuh 6 juta Yahudi dalam solusi finalnya. Mufti kemudian pindah ke Irak untuk meneruskan misi anti Inggrisnya dan lari hingga ke Italia dan diterima Benito Mussolini pada tanggal 27 Oktober 1941 yang mendukung pendirian sebuah negara Palestina. Kemudian Mufti menuju ke Berlin dan bertemu Hitler tanggal 28 november 1941 yang tegang karena Soviet sudah menghentikan Jerman di pinggiran Moskow. Mufti Husseini meminta Hitler mendukung “ Kemerdekaan dan kesatuan Palestina, Syria dan Irak” serta pendirian sebuah legion Arab untuk memerangi Wehmacht.

Pada Oktober 1942 Jerman dipukul mundur oleh Jenderal Montgomery di El Alamien tetapi pada november 1942 mereka dikejutkan atas berita mengerikan Holocaust “pembantaian massal Yahudi di Polandia”. Orang-orang Yahudi mengalami saat-saat yang memperihatinkan kala itu,  Inggris membatasi terhadap migrasi Yahudi, pembantaian Yahudi di Eropa oleh Nazi dan tentara Inggris membalikan kembali kapal-kapal yang berisi pengungsi Yahudi yang hendak memasuki wilayah Palestina yang membuat putus asa, menyakinkan orang Zionis bahwa kekerasan adalah satu-satunya cara untuk memaksa Inggris memberikan tanah air Yahudi yang dijanjikan.

Pada Mei 1945, Komisaris tinggi yang baru Panglima tertinggi Viscount Gort mengeluarkan amnesti untuk para tawanan politik Arab dan Yahudi, tetapi esok harinya mereka kembali berdemonstrasi memboikot pemerintahan Walikota. Sementara itu di Inggris Churchil kalah dalam pemilu dan Perdana Mentri baru Clement Attle menjanjikan Yerusalem baru bagi rakyatnya. Inggris cemas dengan pergolakan yang akan datang. Apakah kota dengan 100.000 Yahudi, 34.000 Muslim dan 30.000 Kristen itu akan menjadi negara Yerusalem yang dijalankan Inggris atau dipartisi sesuai dengan tempat-tempat suci yang dikelola Inggris? Tapi biar bagaimanapun Inggris bertekad menghentikan imigran Yahudi yang selamat dari kamp-kamp kematian Hitler menuju ke Palestina. Dilain pihak Ben Gurion membentuk satu komando perlawanan bersatu untuk menyelundupkan para imigran Yahudi dari Eropa dan mengkoordinasikan perjuangan melawan Inggris. Inggris yang digempur serangan tersebut kemudian menyeret Amerika kedalam dilema mereka. Kemudian presiden Roosevelt dan presiden Stalin mendiskusikan tentang sebuah negara Yahudi di Yalta.

Pada tanggal 22 Juli 1946, di King David Hotel, yang merupakan hotel pertama dan terbesar saat itu di Yerusalem diledakkan oleh bom yang diledakan oleh Irgun (pasukan Zionis) yang dipimpin oleh Begin dan menewaskan banyak orang Inggris, Yahudi dan Arab. Ben Gurion sendiri mengutuk pengeboman itu. Kemudian pada bulan Oktober, Irgun juga mengembom kedutaan besar Inggris di Roma.  Montgomery kemudia kembali ke Yerusalem dan membentuk pasukan rahasia yang bertugas mencari para perusuh.

Pada 14 Februari 1947, Perdana Mentri Inggris,  Clement Attle setuju untuk keluar dari Palestina dan pada  tanggal 2 April 1947 meminta PBB untuk menciptakan komite khusus untuk Palestina (UNSCOP) untuk memutuskan masa depannya. Empat bulan kemudian UNSCOP mengajukan partisi Palestina menjadi dua negara dengan Yerusalem sebagai subyek perwalian dibawah seorang gubernur PBB. Ben Gurion menerima akan tetapi Komite tinggi Arab yang didukung Irak, Saudi Arabia dan Syria menolak partisi itu dan menuntut “ sebuah Palestina Merdeka yang bersatu” dan pada tanggal 29 November 1947 PBB menyetujui usulan itu.

Resolusi 181 yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Rusia mendapatkan hasil 33 negara memberi suara setuju, 13 menentang dan 10 termasuk Inggris, Abstain. Pihak Arab tidak menerima bahwa PBB punya otoritas membagi negara tersebut. Ada 1,2 Juta orang Palestina yang masih memiliki 94% tanah dan ada 600.000 Yahudi. Kedua pihak siap berperang. Yerusalem menjadi ricuh, gerombolan Arab dan Yahudi saling serang dan saling jarah. Kerusuhan kemudian menjalar begitu luas, Yahudi menanti dengan cemas lantaran kalah jumlah. Irgun kemudian menjatuhkan bom pada 13 Desember 1947 di stasiun bus di luar gerbang Damaskus.

Di kesempatan lain, Ben Gurion menemui komisaris tinggi di Tel aviv. Pasukan Arab diatas kertas didukung tentara reguler tujuh negara unggul. Akan tetapi liga Arab yang baru dibentuk masing – masing punya ambisinya. Raja Hasyimi Yordania, Abdullah masih menginginkan Palestina di bawah kerajaannya, sementara itu Damaskus mengincar Syria Raya, serta Raja Farouk Mesir menganggap dirinya pemimpin Arab yang sah dan membenci Hasyimi Yordania dan Irak, yang juga membenci Raja Ibn Saud yang menyingkirkan mereka dari Saudi Arabia. Mereka juga tidak menyukai Mufti yang kemudian memposisikan diri sebagai Kepala negara Palestina. Sementara itu, Anwar Nusseibeh kemudian juga mendirikan Komite Gerbang Herod dengan dinasti Khalidi dan Dajani.

Setiap hari pertempuran antara orang-orang Arab dan Yahudi tidak dapat terelakan, empat bulan menjelang berakhirnya kekuasaan Inggris Yerusalem sudah terjemurus dalam perang tak berkesudahan dengan banyak korban di berbagai pihak. Sebagian mengungsi keluar dari Yerusalem menyelamatkan diri. Kedua belah pihak baik Arab dan Yahudi mereka kehilangan Yerusalem.  Ben Gurion di Tel Aviv juga mengkhawatirkan kejatuhan Yerusalem. Sementara Husseini mengerahkan milisinya dari Irak untuk merebut Yerusalem kembali. Husseini menyadari bahwa mereka membutuhkan bala bantuan dan beliau menuju ke Damaskus untuk meminta artileri tetapi para jenderal Liga Arab malah membuatnya sakit hati. Husseini yang marah berkata : “Kalian pengkhianat, sejarah akan mencatat jika kalianlah yang telah menghilangkan Palestina, aku akan mengambil Kastel dan bertempur bersama Mujahid”. Abdul Kadir Husseini pada tanggal 7 April 1948 menuju Kastel dengan lebih dari 300 pejuang walau pada akhirnya beliau sendiri gugur tapi pasukannya berhasil merebut Kastel. Ribuan orang kemudian menghadiri pemakaman beliau disaat yang bersamaan pasukan Irgun dan Lehi menyerang sebuah desa Arab, Deir Yassin dan membunuh perempuan dan anak-anak yang mendorong peperangan.

Raja Abdullah menolak permohonan maaf Ben Gurion dan pada tanggal 14 April 1948 pasukan Arab menyerbu Yerusalem sebelum dihentikan Inggris. Deir Yassin adalah sumbu pemicu perang yang memperbesar kejahatan Yahudi. Lebih dari 390 ribu orang Palestina yang terpaksa mengungsi meninggalkan tanah airnya, menghindari perang dengan sebuah harapan untuk dapat kembali suatu hari nanti ke tanah air mereka. Akan tetapi seperempat darinya dapat kembali ke Palestina dan selamat serta menjadi Arab Israel , penduduk non Yahudi dalam demokrasi Zionis. Tapi secara keseluruhan 600.000 – 750.000 orang Palestina meninggalkan dan kehilangan rumah mereka pada waktu itu. Pada masa akhir mandat Inggris, orang-orang Yahudi menguasai bagian barat kota sementara orang Arab menguasai Kota Tua dan Timur.

Pada 14 Mei 1948 Jenderal Cunningham keluar dari Yerusalem dari bandara dan terbang menuju Haifa serta berlayar kembali ke Inggris. Semua tentara Inggris mengosongkan benteng Beningrad yang kemudian diperebutkan oleh Irgun. Nusseibeh kemudian menuju Amman dan meminta Raja Abdullah menyelamatkan kota tua. Pada tanggal 14 Mei 1948, Ben Gurion, ketua Jewish Agency memproklamasikan sebuah negara yang mereka tidak tahu apa namanya. Yudea atau Zion? Icriya atau Herzliya usul lainnya. Tapi akhirnya Ben Gurion mengusulkan nama Israel dan itu disetujui “ Tanah Israel”. Yang diproklamirkan dengan Radio walau tidak banyak yang mendengarkannya. Tapi Ben Gurion menahan kegembiraan karena mereka harus melawan sebuah invasi oleh angkatan perang Arab.

Sebelas menit kemudian Presiden AS Truman mengakui de facto terhadap Israel walau mentri luar negeri dengan gigih menentangnya. Sementara Stalin yang pertama mengakui Israel secara resmi. Weizmann yang sudah tua dan hampir buta diminta menjadi presiden pertama oleh Ben Gurion. Weizmann kemudian diundang untuk berkunjungan secara resmi ke Gedung putih oleh Presiden Truman. Sementara itu Anwar Nusseibeh di Yerusalem dan pasukan non reguler mempertahankan Kota Tua. Perang yang sesungguhnya baru dimulai. Angkatan perang dari negara-negara Liga Arab, Mesir, Yordania, Irak. Syria dan Lebanon menginvasi Israel dengan misi khusus melikuidasi Yahudi. Angkatan perang Islam dan banyak faksi Jihadis bersama angkatan perang reguler mereka anti-semitisme dan setengah dari pasukan Mesir adalah Muhajidin dari Ikhwanul Muslimin dimana diantaranya terdapat Yasser Arafat muda (Yasser Arafat adalah cucu dari Abdul Kadir Husseini), Raja Abdullah dan para tentaranya yang dilatih Inggris ditunjuk menjadi Panglima Tertinggi pasukan Arab.

Sementara itu di Mekkah, dari garis keturunan Nabi Muhammad SAW pada bulan Februari 1882 telah lahir seorang pemuda yang sudah sejak muda mengomandani tentara dan jadi otak dari pemberontakan besar Arab. Beliau adalah Raja Abdullah yang berambisi menjadi Raja Palestina dan secara diam-diam menegosiasikan pakna non-agresi dengan Zionis; dia akan menduduki bagian-bagian Tepi barat yang dipersiapkan untuk Arab dengan imbalan untuk tidak menentang perbatasan-perbatasan negara Yahudi yang dibuat PBB; dan Inggris menyetujui Aneksasinya. Dibantu panglima Inggris Abdullah Glubb Pasha mereka menyerang melalui perbukitan Yudea menuju Yerusalem dimana tentara pembebasan Arab menyerang daerah-daerah pinggiran Yahudi. Tapi Haganah (pasukan Yahudi), menurut Ben Gurion juga sudah berhasil menaklukkan hampir seluruh Yerusalem selain Augusta Victoria dan kota Tua. Anwar Nusseibeh kemudian memohon kepada Raja Abdullah untuk mengintervensi dan beliau kemudian meminta kepada panglima Inggris Glubb Pasha untuk membantu mempertahankan Yerusalem.

Pada tanggal 18 Mei, Legian Arab menuju Yerusalem dan mengambil posisi di sekitar Tembok Tua dimana pada 1900 tahun lalu Yahudi yang menjadi sasaran legiun-legiun Titus. Di dalam kota tua, pasukan – pasukan Arab mengepung perkampungan Yahudi. Pertempuran merebut kota Tua tersebut sangat melelahkan. Pada tanggal 26 Mei anggota Legiun merebut lapangan Hurva dan mendinamit sinagog-sinagog. Untuk pertama kalinya sejak penaklukan Muslim pada tahun 1187  Yahudi kehilangan akses ke Tembok Barat. Glub menggunakan Benteng Latrun untuk menutup akses jalan sehingga banyak Yahudi yang terjebak di ruang bawah tanah kelaparan.

Pada tanggal 11 Juni Mediator PBB Pangeran Folke Bernadotte cucu Raja Swedia telah bernegosiasi untuk menyelamatkan Yahudi dan berhasil memediasi gencatan senjata dan memperbaharui partisi yaitu memberikan seluruh Yerusalem kepada Raja Abdullah tetapi Israel Menolak rencana itu seketika gencatan Bernadotte berakhir dan perang kembali berkecamuk. Anggota Legiun bersuka cita menyerang kota baru dari gerbang Zion dan maju ke Notredame dan melihat Kubah Al Aqsha yang kian mendekat. Israel menyerang tetapi gagal. Walau begitu kekuatan Israel bertambah, dengan 88.000 tentara Israel melawan 68.000 tentara Arab. Sepuluh hari kemudian sebelum gencatan senjata kedua, Israel merebut Lydda dan Ramla. Pada 17 September 1948 Bernadotte kembali ke Tanah suci tetapi dia di hentikan dan ditembak oleh Ekstremis Lehi Yahudi hingga tewas.

Sementara itu Abdullah sudah mengamankan kota Tua, pada pertengahan September Liga Arab mengakui pemerintahan Palestina yang berbasis di Gaza yang didominasi oleh Mufti dan keluarga-keluarga Yerusalem. Kemudian Israel menyerang kembali dan mengepung orang-orang Mesir serta menaklukannya di gurun Negev. Pada November 1948, Letnan kolonel Moshe Dayan komandan militer Yerusalem menyetujui gencatan senjata dengan Yordania. Pada separuh pertama 1949 Israel menandatangani gencatan senjata dengan kelima negara Arab dan pada Februari 1949, Knesser Parlemen Israel memilih Weizmann menjadi Presiden untuk seremonial dan Perdana Mentri Ben Gurion. Gencatan senjata ditanda tangani April 1949 dibawah supervisi PBB yang membagi Yerusalem; Israel menerima bagian barat dengan sebuah pulau Teritori di atas bukit Scopus, sementara Abdullah menerima kota Tua, Yerusalem timur dan tepi barat. Perjanjian ini menjanjikan Yahudi akses ke Tembok, pemakaman bukit Zaitun dan makam desa Kidron. Walaupun tidak di taati karena Yahudi tidak diperbolehkan berdoa di Tembok selama 19 tahun dan batu-batu nisan di vandalisasi.

Israel dan Abdullah sama-sama tidak ingin kehilangan bagiannya di Yerusalem. Sementara PBB mengusulkan deinternatioinalisasi kota itu. Jadi kedua belah pihak menduduki Yerusalem secara ilegal dan hanya dua negara yang mengakui Abdullah atas kota Tua. Pada 11 Desember 1949 Yerusalem di deklarasikan sebagai ibukota Israel. Pemenang Arab, Abdullah yang 32 tahun setelah pemberontakan Arab akhirnya mendapatkan Yerusalem.

Terbelah (1951 – 1967)

Abdullah kemudian di nobatkan menjadi Raja Yerusalem oleh Uskup Koptik pada bulan November, Raja pertama yang menguasai kota itu sejak Frederick II. Tanggal 1 December, Abdullah kemudian mendeklarasikan diri sebagai Raja Palestina di Yericho dan mengganti nama kerajaannya menjadi Kerajaan Yordania Bersatu. Raja Abdullah kemudian wafat di tembak seorang tak dikenal di kepalanya sewaktu beliau hendak menunaikan sholat Jumat di Masjidil Aqsha pada 20 Juli 1951. Hussein cucunya yang juga di tembak didadanya terselamatkan oleh baja di medali-medali yang ia kenakan di seragam militernya. Mufti dan Raja Farouk dari Mesir dikhabarkan berada di belakang pembunuhan itu. Musa Hussein ditangkap dan pembunuhan ini adalah salah satu pembunuhan-pembunuhan dan kudeta yang dipicu oleh kekalahan Arab. Sementara itu di Mesir, Raja Farouk, keturunan terakhir dari klan Mehmet Ali Albania digulingkan oleh Junta perwira bebas pada tahun 1952 yang dipimpin oleh Jenderal Muhammad Neguib dan Kolonel Gamal Abdul Nasser.

Raja Abdullah digantikan oleh putranya Raja Talal yang menderita Schizofrenia dan tak lama pada 12 Agustus 1952, Hussein pada usia 17 tahun (14 februari 1935 – 7 Februari 1999) menggantikan ayahnya, Raja Talal turun tahta. Pada awal kekuasaannya dia sangat pro Barat dengan Inggris mendanai rezimnya dan kemudian Amerika. Sementara itu Yerusalem tetap terbelah antara timur dan barat dengan pagar –pagar dan untaian kawat berduri serta malam-malam yang dihiasi berisik suara senjata. Raja Hussein menyebut Yerusalem sebagai ibukota kedua dan terlalu bahaya memisahkan ibukota riilnya ke Amman. Yerusalem diturunkan jadi kota propinsi. Saudara Raja Abdullah, Pangeran Muhammad memerintah Tepi Barat. Kemudian Raja Hussein menunjuk Anwar Nusseibeh Menjadi Gubernur dan penjaga tempat perlindungan.  Tahun 1956, Mesir terlibat krisis Suez setelah menasionalisasikan menolak tawaran Inggris dan Amerika Serikat untuk mendanai pembangunan bendungan Aswan.

Pada tahun 1964, lembaga politik resmi bangsa Arab Palestina didirikan oleh Yasser Arafat dan mendapatkan pengakuan Internasional untuk mengusahakan sebuah negara Palestina diantara Laut tengah dan Yordania.

Perang Enam Hari (1967)

Presiden Mesir Nasser yang pernah ikut berjuang dengan Liga Arab di perang 1948, semakin mendominasi dan dikhawatirkan oleh Israel. Beliau mendukung serangan-serangan Palestina terhadap Israel. Pada tahun 1956 Nasser menentang sisa – sisa imperium Anglo-Prancis dengan nasionalisasi Kanal Suez dan mendukung pemberontakan Aljazair melawan Prancis. London dan Paris yang ingin menghancurkannya membuat aliansi dengan Ben Gurion. Sukses serangan Israel ke Sinai memberi kedok bagi Anglo – Prancis untuk menginvasi Mesir tapi Amerika serikat memaksa mereka mundur.

Segera setelah itu Raja Hussein memecat Glubb sebagai komandan pasukannya. Nasser mengincar kedua kerajaan Hasyimi. Pada 1958 sepupu Hussein dan teman sekolahnya Faisal II dari Irak dibunuh dalam satu kudeta Militer. Keluarga itu telah menjadi Raja Arab, Hijaz, Syria, Palestina dan Irak, Hussein menjadi Raja Hasyimi terakhir. Nasser kemudian menggabungkan Mesir dan Syrian dalam Republik Arab Bersatu (UAR) yang mengepung Israel dan mendominasi Yordania, tapi UAR rapuh dan dua kali terpecah. Sementara Yerusalem tetap menjadi kota ziarah dunia yang ramai di datangi peziarah dari berbagai dunia. Raja Hussein bahkan mengkilapkan kubah Batu pada tahun 1964 yang sudah kusam sejak berabad lampau pada saat Paus VI datang berkunjung.

Mesir lalu mengusir United Nations Emergency Force (UNEF) dari semenanjung Sinai pada bulan Mei 1967 yang telah berpatroli disana sejak 1957 akibat invasi Israel tahun 1956. Mesir kemudian mengajak negara-negara Arab lainnya, Yordania,Suriah, Arab Saudi, Irak, Kuwait, Sudan dan Aljazair  untuk bersatu melawan Israel dan menutup Selat Tiran. Israel kemudian  melancarkan serangan. Perang 6 hari ini berakhir dengan Israel merebut Yerusalem timur, Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, Tepi Barat dan dataran tinggi Golan.

Periode 1967 – 1993

Perjanjian nasional Palestina di buat pada tahun 1968 yang menuntut pembekuann Israel. Pada tahun 1967-1970 perang dingin antara Israel dan Mesir terjadi. Di tahun 1973 terjadi perang Yom Kippur antara Israel dengan koalisi negara-negara Arab yang dipimpin oleh Mesir dan Suriah.

Pada 17 September 1978, ditanda-tangani perjanjian perdamaian Camp David untuk Timur Tengah yang dipimpin oleh presiden Amerika Jimmy Carter, selama 12 hari dengan presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Mentri Israel Menachem Begin yang melahirkan perjanjian damai Israel – Mesir tahun 1979. Kemudian pada tanggal 6 Juni 1982 Israel menyerang Lebanon selatan. Lebanon adalah rumah bagi pengungsi Palestina dan juga gerilyawan Palestina. Israel didukung Amerika serikat bermaksud menekan gerilyawan Palestina yang sering menyerang wilayah Israel.

Intifada pertama (1987 – 1991) adalah pemberontakan rakyat Palestina terhadap Pendudukan Israel di Palestina yang dimulai dengan pemberontakan di wilayah Jabalia pada 9 Desember 1987 akibat terbunuhnya orang Palestina dan menyebar ke Gaza, Tepi Barat dan Yerusalem. Intifada dalam bahasa Arab berarti melepaskan atau mengguncang, istilah yang dipakai unutk menggambarkan pemberontakan rakyat melawan pemerintahan. Orang-orang Palestina yang sudah bosan dan muak akan kekejaman pendudukan Israel melakukan perlawanan. Tua muda laki-laki Palestina melawan dengan melemparkan batu dan bom Molotov, aksi mogok masal dan memboikot pelayanan sipil Israel. Ribuan orang terbunuh dan ditangkap. Intifada pertama berakhir 1992.

Periode 1993 – 2000

Perjanjian Oslo di tanda-tangani pada 13 September 1993. Di perjanjian Oslo Israel bersedia menarik pasukannya dari Tepi Barat dan Jalur Gaza dan memberikan Arafat lembaga semi otonom untuk memerintah di kedua wilayah tersebut dan mengakui hak negara Israel untuk eksis secara aman dan damai. Penerapan dari perjanjian Oslo ini maka Otoritas Palestina berdiri pada 28 September 1995. Pada September 1996 terjadi kerusuhan di terowongan Aqsha, dimana Israel membuat terowongan di bawah Masjidil Aqsha untuk alasan pariwisata dan arkeologi tetapi sesunggunya itu akan meruntuhkan Masjidil Aqsha. Israel kemudian menarik pasukannya dari Hebron Tepi Barat pada tahun 1997.

Periode 2000 – sekarang

Pada tanggal 11 dan 25 Juli 2000, PM Ehud Barak Israel dan Yasser Arafat dari Palestina berunding kembali di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Camp David yang disaksikan presiden Amerika, Bill Clinton tetapi pertemuan ini berakhir tanpa tercapai sebuah kesepakatan.

Sementara itu Intifada kedua terjadi pada September 2000 yang dipicu oleh kunjungan Perdana Mentri Israel Ariel Sharon ke Masjidil Aqsha yang memancing kerusuhan. Orang-orang Palestina melemparkan batu kepada polisi Israel yang dibalas dengan serangan dari tank dan tembakan dari udara. Ribuan orang Palestina menjadi korban dalam intifada kedua ini. Israel kemudian mulai membangun tembok pertahanan di tahun 2002 di Tepi Barat diikuti dengan serangan dari pihak Palestina.

Pada tanggal 09 Januari 2005 Mahmoud Abbas dari Fatah terpilih menjadi presiden Otoritas Palestina, menggantikan Yaser Afarat yang wafat  pada 11 November 2004. Beliau menghadiri  KTT Sharm al Sheik pada 8 februari 2005, dengan Perdana Mentri Israel Ariel Sharon untuk bertemu dan sepakat untuk menghentikan semua kekerasan terhadap keduabelah pihak. Israel kemudian keluar dari permukiman Gaza pada Agustus 2005.

Sementara itu pada bulan Januari 2006 Hamas memenangkan kursi dewan legislative setelah 40 tahun didominasi oleh Fatah. Di tahun 2008 – 2009 ketegangan di Gaza meningkat dan memicu beberapa serangan dan pertempuran hingga akhirnya Israel memblokade seluruh bantuan ke Gaza di tahun 2010. Di tahun 2008 sempat terjadi gencatan senjata selama 6 bulan tetapi di bulan November 2008 Israel memulai kembali serangan yang memicu perang Gaza 2008-2009. Konflik tersebut berakhir 21 Januari 2009. Perang ini adalah perang terbesar sejak perang tahun 1967.

Sejak itu beberapa kali terjadi di tahun 2010 dan di tahun 2011 hingga kemudian HAMAS dan FATAH  mulai membicarakan rekonsiliasi dan ini menjadi ancaman bagi Israel. Pada tahun 2012-2013 pelanggaran gencatan senjata tidak hanya penyerangan ke masing-masing wilayah saja oleh kedua belah pihak, Israel bahkan sempat masuk ke wilayah Jalur Gaza beberapa kali dan menyerang armada nelayan Gaza berkali-kali.

Pada tahun 2014, Israel menembakan 85 roket dalam lima bulan pertama. Ketika rekonsiliasi HAMAS dan FATAH pada tanggal 23 April 2014 disetujui dan terbentuknya Pemerintah Palestina bersatu, Israel mengumumkan untuk tidak bernegosiasi damai dengan pemerintahan yang baru ini dan kemudian melancarkan serangan udara ke wilayah Gaza. PM Israel Netayahu mendesak presiden Mahmoud Abbas untuk memilih perdamaian dengan HAMAS atau perdamaian dengan Israel.  

Peperangan terjadi lagi 1 Mei 2014 di Gaza antara hamas dan Israel yang menyebabkan ribuan korban tewas dan luka-luka di Pihak Palestina yang sebagian besar adalah warga sipil. Pertempuran ini adalah salah satu pertempuran yang banyak menimbulkann korban jiwa bagi masyarakat Palestina. Dan pertempuran-pertempuran serta insiden bersenjata lainnya yang sampai saat ini masih terus terjadi dan menghantui masyarakat Palestina.

vvv