Antara Pakaian Syar'i Dan Najis Yang Mungkin Menempel

Mezora - Aturan menutup aurat bagi Muslim dan Muslimah memang sudah sangat jelas disebutkan dalam Al-Quran. Setidaknya ada tujuh ayat yang berisi anjuran untuk menutup aurat bagi wanita. Salah satunya ada dalam Surat Al-Ahzab.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita (keluarga) orang-orang mukmin, agar mereka mengulurkan atas diri mereka (ke seluruh tubuh mereka) jilbab mereka. Hal itu menjadikan mereka lebih mudah dikenal (sebagai para wanita muslimah yang terhormat dan merdeka) sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah senantiasa Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S Al-Azhab: 59)

Meskipun ada saja muslimah yang menolak untuk berhijab, namun saat ini ternyata pakaian yang sesuai syariat tengah digandrungi di tanah air. Sayangnya, masalah muncul ketika pakaian syar'i yang notabene longgar dan panjang ini, menjuntai hingga menyapu lantai. Tentunya, hal tersebut tidak menutup kemungkinan ada najis yang menempel pada pakaian.

Lalu, gimana sih sebaiknya pakaian wanita dibuat?

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan mengenai bagian bawah pakaian, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata kepada Rasulullah, “Lalu bagaimana dengan pakaian seorang wanita wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Hendaklah ia mengulurkannya satu jengkal,” Ummu Salamah berkata, ‘Jika demikian masih tersingkapSatu hasta saja dan jangan lebih dari itu,” jawab beliau. (HR. At Tirmidzi. Hadits hasan shahih)

Perihal dimulainya jengkal tersebut, para ulama berbeda-beda pendapat. Akan tetapi, pendapat yang kuat -insya Allah- satu jengkal adalah diukur dari mata kaki. Karena inilah Ummu Salamah berkata, “Jika demikian, kedua kakinya masih tersingkap,” lalu Rasulullah memberikan keringanan dengan satu hasta.

Kemudian masalah najis yang kemungkinan tersapu oleh pakaian yang menjutai tersebut, Imam Malik berkata, “Sesungguhnya sebagian tanah membersihkan sebagian yang lain. Hal ini berlaku apabila kita menginjak tanah yang kotor, kemudian setelah itu menginjak tanah bersih dan kering, maka tanah yang bersih dan kering inilah yang akan menjadi pembersihnya. Adapun najis seperti air kencing dan semisalnya yang mengenai pakaian/ jasad maka harus dibersihkan dengan air.” Al Khathabi berkata. “Dan ummat sepakat dalam hal ini.”

Namun tentu saja hal ini hanya khusus untuk najis kering, sehingga najis basa seperti air kencing atau air yang telah tercampur darah atau bangkai harus dicuci hingga bersih.

Hal lain yang bisa dilakukan oleh wanita adalah dengan menggunakan kaos kaki untuk menutup aurat pada kaki. Jika hal ini dilakukan, Syaikh al-Albani mengatakan jika hal ini dilakukan maka wanita tidak perlu memanjangkan pakaiannya hingga melebihi tanah, tapi cukup menutupi telapak kakinya (yakni panjangnya cukup sampai tanah saja).


 

Tags: Fashion