Cara Hadapi 4 Fitnah Dajjal Menurut Surat Al -Kahfi

Mezora - Tidak ada yang tahu kapan kiamat atau akhir zaman akan terjadi. Namun, tanda-tanda akhir zaman tersebut telah disebutkan dalam Qur’an dan Hadist.

Diceritakan bahwa di akhir zaman akan muncul dajjal yang menyebarkan fitnah dan menggoyahkan iman kaum muslim.

Dari Abu Darda, dari Nabi saw bersabda, “Barangsiapa menghafal sepuluh ayat pertama surat al-Kahfi maka dia akan dijaga dari Dajjal (HR: Muslim)

Dalam surat Al-Kahfi, terdapat 4 kisah yang menggambarkan tentang fitnah dajjal yang akan menguji keimanan umat Islam di akhir zaman, lengkap dengan cara menghadapinya.

Fitnah yang Pertama

Fitnah pertama tertulis dalam ayat 1-14 yang menceritakan tentang sekelompok anak muda yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka hidup di tengah pemerintahan yang zalim dan menawarkan Islam sebagai pemecah masalah, namun mereka ditolak. Mereka kemudian dikejar-kejar dan lari berlindung ke gua (kahfi). Mereka tertidur selama 309 tahun terbangun dengan kondisi penduduk negeri yang sudah bayak yang beriman kepada Allah.

Kisah ini menggambarkan ujian untuk memegang teguh agama dan menegakkannya. Dajjal akan menguji keimanan kita dan mengajak kita untuk menjadi golongannya. Cara untuk menghadapi ujian ini tertulis dalam surat Al-Kahfi ayat 28:

Fitnah yang Pertama

Fitnah pertama tertulis dalam ayat 1-14 yang menceritakan tentang sekelompok anak muda yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka hidup di tengah pemerintahan yang zalim dan menawarkan Islam sebagai pemecah masalah, namun mereka ditolak. Mereka kemudian dikejar-kejar dan lari berlindung ke gua (kahfi). Mereka tertidur selama 309 tahun terbangun dengan kondisi penduduk negeri yang sudah bayak yang beriman kepada Allah.

Kisah ini menggambarkan ujian untuk memegang teguh agama dan menegakkannya. Dajjal akan menguji keimanan kita dan mengajak kita untuk menjadi golongannya. Cara untuk menghadapi ujian ini tertulis dalam surat Al-Kahfi ayat 28:

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”

Fitnah yang Kedua

Fitnah yang kedua tertulis di ayat 32-42 yang menceritakan tentang Shohibul Jannatain (pemilik dua kebun) yang tenggelam dalam kekayaannya dan melupakan Allah dan hari kiamat.

Kisah ini menggambarkan fitnah atau ujian pada saat kita memiliki banyak harta yang dapat menjadikan kita sombong seperti syaithan. Untuk menghadapi fitnah atau ujian ini, Allah mengingatkan kita untuk menanamkan dalam hati bahwa semua yang ada di bumi ini tidak ada yang kekal. Hal ini tersurat dalam surat Al-Kahfi ayat 45:

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Fitnah yang Ketiga

Fitnah yang Ketiga tertulis dalam ayat 62-70 yang menceritakan tentag Nabi Musa ‘Alaihi wa Salam dan khidr. Konon, Nabi Musa merasa bahwa dirinya adalah orang paling pintar di dunia. Namun, Allah kemudian menunjukkan bahwa ada orang lain yang lebih pintar dari Nabi Musa ‘Alaihi wa Salam, yaitu Khidr. Allah menunjukkan keberadaan Khidr yaitu di antara dua pertemuan laut.

Kisah ini menggambarkan fitnah atau ujian ilmu. Sama seperti ujian harta, ujian ilmu juga dapat menjadikan kita sombong dan merendahkan pihak lain. Kita bisa mengatasinya dengan sikap tawadhu atau rendah hati. Ketika Khidr mensyaratkan Musa untuk tidak banyak bertanya hingga semua dijelaskan, Musa menjawab: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”

Fitnah yang keempat tertulis dalam ayat 95 yang menceritakan tentang raja Zulkarnain yang adil dan suka menebarkan kebenaran. Suatu haru ia bertemu satu kaum yang bahasanya hampir tidak bisa dimengerti. Meski ia adalah raja yang amat dihormati, Zulkarnain dengan ketawadhuannya meminta pertolongan kepada pihak lain untuk berkomunikasi dengan kaum tersebut.

Kisah ini menggambarkan tentang ujian kekuasaan yang bisa membuat manusia merasa dirinya paling hebat. Selayaknya kita meniru Zulkarnain yang tetap tawadhu dan rendah hati meski ia sangat dihormati. Dzulkarnain berkata: “Ini adalah rahmat dari Tuhanku”  (Al-Kahfi: 97)

Semoga kita menjadi hamba yang selalu ada dalam lindungan-Nya. Insha Allah.

Tags: Muslim Talk